Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Covid-19, HK Metals : Tekanan yang Sangat Berat

PT HK Metals Utama Tbk. mencatatan penurunan permintaan cukup tajam selama 9 bulan pertama 2020. Pabrikan ini meramalkan omzet hingga akhir tahun akan tertekan hingga dua digit.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 16 Oktober 2020  |  15:38 WIB
Baja Ringan.  - Bisnis.com
Baja Ringan. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - PT HK Metals Utama Tbk. mencatatan penurunan permintaan cukup tajam selama 9 bulan pertama 2020. Pabrikan ini meramalkan omzet hingga akhir tahun akan tertekan hingga dua digit.

Direktur Komersil HK Metals Yudhi Sudarmanto mengatakan pandemi COvid-19 memberikan dampak yang berat untuk industri bahan bangunan. Pasalnya, ujar Yudhi, beberapa proyek bangunan tertunda dan permintaan properti turun selama pandemi Covid-19.

"Sangat berat. Kami proyeksi sampai akhir tahun [2020], kami mencoba menjaga penjualan pada level yang sekarang dengan perkiraan penurunan omzet year-on-year sekitar 40 persen," katanya kepada Bisnis, Jumat (16/10/2020).

Berdasarkan laporan keuangan HK Metals per kuartal II/2020, laba kotor perseroan anjlok 54,29 persen secara tahunan menjadi Rp52,8 triliun. Adapun, lini produksi yang mencatatkan pertumbuhan hanya produsi baja ringan yang naik 68,34 persen secara tahunan menjadi Rp8,5 triliun.

Yudhi berujar ada sedikit perbaikan penjualan pada perlonggaran pematasan sosial berskala besar (PSBB). Walakin, permintaan komponen bangunan kepada peritel maupun pabirkan masih lemah.

Per kuartal III/2020, Yudhi menyatakan hanya produk aluminium dan baja ringan yang masih bisa mempertahankan kestabilan penjualan. Sementara itu, lanjutnya, penjualan pipa polivinil klorida (PVC), stainless steel, dan alat tukang mengalami penuruna signifikan.

Oleh karena itu, pihaknya akan terusfokus mengembangkan lini produksi aluminium dan baja ringan dalam beberapa tahun ke depan. Selain realisasi Januari-September 2020, Yudhi menyatakan keputusan tersebut juga didasari perubahan tren desain arsitektur beberapa tahun ke depan.

"Akan banyak [bangunan yang] mengedepankan ruang terbuka dan juga sekat-sekat pembatas yang kami kira akan banyak menggunakan komponen aluminium dan baja ringan," ucapnya.

Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI) Stephanus Koeswandi mendata utilisasi industri proil baja ringan dan atap baja kini telah berada di posisi 85 persen. Walakin, anjloknya utilisasi industri roll forming pada April-Mei ke posisi 30 persen membuat dampak permanen terhadap total volume produksi sepanjang 2020.

"Bisa mengejar atau paling tidak sama dengan 2019 itu sudah sangat baik. Cuma, prediksi saya [volume produksi 2020] akan turun 7-10 persen dibandingkan tahun lalu. Tapi, itu sudah cukup baik," katanya kepada Bisnis, Kamis (15/10/2020).

Stephanus menyatakan penurunan pada April-Mei 2020 utamanya disebabkan oleh penghentian pengerjaan pembangunan rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan. Artinya, penurunan permintaan tersebut didorong oleh penghentian konstruksi rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Alhasil, total produksi baja ringan hingga akhir tahun akan mencapai sekitar 1,3 juta ton dari realisasi 2019 sebanyak 1,5 juta ton. Namun, Stephanus optimistis permintaan akan terus naik di kuartal IV/2020 mengingat banyak pengembang yang akan menyelesaikan proyek konstruksi tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri baja baja ringan
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top