Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Catatan Resep Atasi Krisis Corona dari Kepala Ekonom IMF

IMF menilai kebijakan fiskal yang jor-joran tidak cukup dalam menangani dampak Covid-19. Berikut ini, resep dari kepala ekonom IMF terkait dengan langkah apa saya yang harus diambil negara-negara di dunia.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  09:51 WIB
Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath. Bloomberg.
Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath. Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA - Dukungan fiskal global telah mendekati US$12 triliun untuk menopang krisis kesehatan yang kini berkembang menjadi krisisi ekonomi akibat virus Corona.

Selain jor-joran fiskal, banyak bank sentral dan otoritas keuangan global yang telah mendorong pemotongan suku bunga yang ekstensif, suntikan likuiditas, dan pembelian aset oleh bank sentral untuk membantu menyelamatkan nyawa dan mata pencaharian serta mencegah bencana keuangan yang lebih besar.

Namun, upaya ini belum juga cukup untuk mengatasi mega krisis Covid-19.

Kepala Ekonom Dana Moneter Internasional Gita Gopinath menilai masih banyak yang harus dilakukan untuk memastikan pemulihan yang berkelanjutan.

Pertama, kolaborasi internasional yang lebih besar diperlukan untuk mengakhiri krisis kesehatan ini.

Kemajuan luar biasa sedang dibuat dalam pengembangan tes, perawatan, dan vaksin, tetapi hanya jika negara-negara bekerja sama secara erat maka akan ada produksi yang cukup dan distribusi yang luas ke semua bagian dunia.

"Kami memperkirakan bahwa jika solusi medis dapat tersedia lebih cepat dan lebih luas dibandingkan dengan baseline kami, hal itu dapat menyebabkan peningkatan kumulatif dalam pendapatan global hampir US$9 triliun pada akhir 2025, meningkatkan pendapatan di semua negara dan mengurangi perbedaan pendapatan," ujar Gita dalam blog-nya, Selasa (13/10/2020).

Kedua, IMF melihat kebijakan harus didorong secara agresif dan fokus pada upaya membatasi kerusakan ekonomi yang berkepanjangan akibat krisis ini.

"Pemerintah harus terus memberikan dukungan pendapatan melalui transfer tunai yang ditargetkan dengan baik, subsidi upah, dan asuransi pengangguran," kata Gita.

Untuk mencegah kebangkrutan skala besar dan memastikan pekerja dapat kembali ke pekerjaan yang produktif, perusahaan yang rentan tetapi layak harus terus menerima dukungan. Jika memungkinkan, dukungan dapat dilakukan melalui penangguhan pajak, moratorium pada layanan hutang, dan suntikan modal.

Seiring waktu dan dengan menguatnya pemulihan, Gita menegaskan kebijakan harus bergeser untuk memfasilitasi realokasi pekerja dari sektor-sektor yang cenderung menyusut dalam jangka panjang ke sektor-sektor yang sedang tumbuh, e-commerce misalnya.

Para pekerja harus didukung melalui penyesuaian ini dengan transfer pendapatan, pelatihan ulang, dan pelatihan ulang.

Mendukung realokasi pekerja ini juga akan membutuhkan langkah-langkah untuk mempercepat prosedur kebangkrutan dan mekanisme penyelesaian untuk mengatasi kebangkrutan perusahaan secara efisien.

Gita menekankan dorongan investasi infrastruktur hijau di ranah publik saat suku bunga rendah dan ketidakpastian tinggi dapat secara signifikan meningkatkan lapangan kerja dan mempercepat pemulihan, sekaligus berfungsi sebagai langkah besar awal untuk mengurangi emisi karbon.

"Pasar berkembang dan negara berkembang harus mengelola krisis ini dengan sumber daya yang lebih sedikit, karena banyak yang dibatasi oleh utang yang meningkat dan biaya pinjaman yang lebih tinggi."

Tidak hanya itu, negara-negara dalam skala ekonomi tersebut perlu memprioritaskan pengeluaran kritis untuk kesehatan dan transfer tunaia ke masyarakat miskin dan memastikan efisiensi maksimum.

Gita memandang kelompok negara ini juga akan membutuhkan dukungan berkelanjutan dalam bentuk hibah internasional dan pembiayaan lunak, dan keringanan hutang dalam beberapa kasus.

"Jika utang tidak dapat dipertahankan, utang harus segera direstrukturisasi untuk membebaskan keuangan [negara-negara tersebut] untuk menghadapi krisis ini," tegasnya

Terakhir, kebijakan harus dirancang dengan tujuan menempatkan ekonomi pada jalur pertumbuhan yang lebih kuat, adil, dan berkelanjutan.

Gita mengungkapkan pelonggaran kebijakan moneter global, meskipun penting untuk pemulihan, harus dilengkapi dengan langkah-langkah untuk mencegah penumpukan risiko keuangan dalam jangka menengah, dan independensi bank sentral harus dijaga dengan segala cara.

Pembelanjaan fiskal yang diperlukan dan jatuhnya output telah mendorong tingkat utang negara global mencapai rekor 100 persen dari PDB global.

Meskipun suku bunga rendah dan proyeksi rebound dalam pertumbuhan pada tahun 2021 akan menstabilkan tingkat utang di banyak negara, Gita melihat semua negara akan mendapat manfaat dari kerangka fiskal jangka menengah yang tepat untuk memberikan keyakinan bahwa utang tetap berkelanjutan.

"Di masa depan, pemerintah kemungkinan perlu meningkatkan progresivitas pajak mereka sambil memastikan bahwa perusahaan membayar bagian pajak yang adil, di samping menghilangkan pengeluaran yang boros," kata Gita.

Dia menambahkan investasi di bidang kesehatan, infrastruktur digital, infrastruktur hijau, dan pendidikan dapat membantu mencapai pertumbuhan yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan di masa yang akan datang.

Selain itu, upaya memperluas jaring pengaman sosial dapat memastikan kelompok yang paling rentan terlindungi seraya tetap mendukung aktivitas jangka pendek.

"Ini adalah krisis terburuk sejak Depresi Besar, dan diperlukan inovasi yang signifikan di bidang kebijakan, baik di tingkat nasional maupun internasional untuk pulih dari bencana ini," ujarnya

"Tantangannya menakutkan. Tetapi ada alasan untuk berharap," tegas Gita.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

krisis ekonomi imf Virus Corona
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top