Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IMF Revisi Proyeksi Ekonomi Global, Begini Perbedaan di AS, Eropa dan Asia

Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath menyatakan revisi naik dalam perkiraan pertumbuhan IMF 2020 ini mencerminkan pertumbuhan kuartal kedua yang lebih baik dari yang diproyeksikan di AS dan zona euro, kembalinya pertumbuhan yang lebih kuat dari yang diantisipasi di China dan tanda-tanda pemulihan yang lebih cepat di kuartal ketiga.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  04:44 WIB
Logo The International Monetary Fund (IMF). - Reuters
Logo The International Monetary Fund (IMF). - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - International Monetary Fund (IMF) merevisi naik perkiraaan produk domestik bruto global pada 2020 menjadi minus 4,4 persen, meningkat 0,8 persen dari perkiraaan sebelumnya yang disampaikan pada Juni lalu, yakni minus 5,2 persen.

Untuk 2021, IMF memperkirakan pertumbuhan 5,2%, turun dari 5,4%. Perkiraaan tersebut tercantum dalam World Economic Outlook terbaru yang dirilis pada Selasa (13/10/2020), yang juga mencakup revisi perkiraan bulan Juni dan data historis lainnya untuk mencerminkan pembobotan negara yang diperbarui.

Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath menyatakan revisi naik dalam perkiraan pertumbuhan IMF 2020 ini mencerminkan pertumbuhan kuartal kedua yang lebih baik dari yang diproyeksikan di AS dan zona euro, kembalinya pertumbuhan yang lebih kuat dari yang diantisipasi di China dan tanda-tanda pemulihan yang lebih cepat di kuartal ketiga. Namun, kondisi yang positif tersebut dibarengi dengan penurunan peringkat di beberapa negara berkembang.

IMF memperkirakan perekonomian AS terkontraksi 4,3% tahun ini, lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan kontraksi sebelumya 8%. Namun, angka itu belum memperhitungkan potensi stimulus fiskal tambahan, karena Presiden Donald Trump dan Demokrat terus berselisih tentang langkah-langkah yang akan dilakukan. Pertumbuhan dipatok pada 3,1% pada 2021, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,5%.

Sementara itu, untuk ekoomi kawasan euro diperkirakan menyusut 8,3% tahun ini, juga lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi pada Juni lalu sebesar 10,2%. Untuk 2021, pertumbuhannya direvisi jadi 5,2%, turun dari sebelumnya 6%. Proyeksi pertumbuhan negara-negara maju secara keseluruhan menjadi 5,8% pada tahun 2020, dibandingkan dengan 8,1% sebelumnya.

Di sisi lain, prospek pasar negara berkembang semakin memburuk. Hal ini lantaran peningkatan infeksi kasus Covid-19 yang kian tinggi. Ekonomi negara berkembang diperkirakan mengalami kontraksi 3,3% untuk tahun ini, dibandingkan dengan 3,1% sebelumnya.

Untuk regional Asia, Negara China tetap menjadi satu-satunya ekonomi besar yang diperkirakan akan berkembang, dengan proyeksi pertumbuhan 1,9% pada 2020 dan melesat sebesar 8,2% pada 2021. Sementara itu, India akan mengalami penurunan perkiraan paling tajam, dengan kontraksi 10,3% terlihat untuk tahun ini, dibandingkan dengan hanya 4,5% sebelumnya.

Secara keseluruhan, IMF melihat output global pada akhir 2021 menjadi 0,6% lebih tinggi daripada pada akhir 2019, sebelum pandemi. Akan tetapi, kenaikan itu hampir seluruhnya didorong oleh pertumbuhan China. Adapun, sebagian besar negara lain, termasuk AS masih harus menunggu setidaknya hingga 2022 untuk bisa pulih ke level sebelum pandemi Covid-19.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat imf pemulihan ekonomi

Sumber : Bloomberg

Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top