Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ramalan Jadi Kenyataan, Limbah Masker Bikin Pusing Industri Daur Ulang

Limbah masker medis kini menjadi masalah serius yang membuat 30-40 pabrik daur ulang plastik menghentikan produksi. Hal ini rupanya telah diramalkan Kementerian Perindustrian dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COvid-19 pada awal pandemi Covid-19.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  20:07 WIB
Masker N95
Masker N95

Bisnis.com, JAKARTA - Limbah masker medis kini menjadi masalah serius yang membuat 30-40 pabrikan daur ulang plastik menghentikan produksi. Hal ini rupanya telah diramalkan Kementerian Perindustrian dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada awal pandemi Covid-19.

Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi) menyatakan penghentian produksi tersebut disebabkan oleh anjloknya ketersediaan skrap plastik. Pasalnya, pemulung enggan mengambil skrap plastik di sekitar masker medis karena takut tertular Covid-19.

Alhasil, Adupi meramalkan sekitar 50 persen pengepul skrap plastik gulung tikar. Dengan kata lain, sekitar 2,5 juta pemulung akan terdampak dari limbah masker medis tersebut.

"Dari awal Kemenperin telah menyampaikan hal ini akan terjadi pada saat meeting lintas kementerian," kata Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Elis Masitoh kepada Bisnis, Rabu (14/10/2020).

Seperti diketahui, masker dan APD medis yang digunakan tenaga medis dan sebagian masyarakat terbuat dari kain spunbond dan meltbond. Kedua serat tersebut terbuat dari serat polyester.

Walaupun sebagian kain yang terbuat dari serat polyester bisa didaur ulang, hal yang sama tidak bisa dilakukan pada masker dan APD medis. Pasalnya, kedua kain yang terbuat dari polyester tersebut memiliki karakteristik yang beda, alhasil belum dapat didaur ulang sampai saat ini.

Berdasarkan catatan Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), bahan daur ulang berkontribusi sekitar 1 juta ton per tahunnya. Dengan kata lain, plastik daur ulang menopang 20 persen dari konsumsi plastik nasional per tahun.

Artinya, masalah limbah masker medis akan meninggalkan skrap plastik setidaknya 500.000 ton di tempat penampungan akhir (TPA) yang tersebar di seluruh negeri. Pasalnya, Adupi meramalkan volume produksi tahun ini setidaknya akan anjlok 50 persen dari realisasi 2019.

Berdasarkan data Kemenperin, saat ini ada 87 pabrikan masker medis degan utilisasi di level 71,69 persen. Adapun, industri masker medis diramalkan akan memproduksi 3,1 miliar masker medis, sedangkan 129,8 juta digunakan konsumen lokal.

Sementara itu, ada 146 pabrikan APD medis sekali pakai dengan utilisasi di mencapai 80,4 persen. Sampai akhir tahun, industri APD medis sekali pakai akan memproduksi 556,8 juta unit, sedangkan 11,74 juta unit akan dipasarkan di dalam negeri.

"Oleh karena itu, kami memberikan alternatif untuk masker dengan adanya masker kain dan untuk APD adanya coverall yang washable," ucap Elis.

Elis mengatakan pihaknya bersama tim pakar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih terus mencari alternatif bahan baku. Adapun, bahan baku tersebut akan menggantikan bahan baku masker dan APD agar lebih ramah lingkungan.

Namun demikian, kementerian teknis yang bertanggung jawab atas masalah ini adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Walakin, Kemenperin masih mencari cara apakah limbah masker dan APD medis bisa didaur ulang.

Sementara itu, Elis menyatakan masker berbahan kain pun sudah diproduksi berbarengan dengan masker medis sejak awal pandemi. Oleh karena itu, Kemenperin menggodok SNI Masker Kain yang telah terbit awal kuartal IV/2020.

Pada akhir semester I/2020, Elis mendata ada 16 pabrikan masker kain dengan kapasitas produksi per bulan mencapai 394,8 juta unit. Adapun, industri masker kain nasional diramalkan akan memproduksi 2,08 miliar unit hingga akhir tahun.

Dalam SNI 8914:2020, masker dari kain diklasifikasikan dalam tiga tipe, yaitu Tipe A untuk penggunaan umum, Tipe B untuk penggunaan filtrasi bakteri, dan Tipe C untuk penggunaan filtrasi partikel.

SNI tersebut mengatur beberapa parameter krusial sebagai proteksi, antara lain daya tembus udara bagi Tipe A di ambang 15-65 cm3/cm2/detik, daya serap sebesar ≤ 60 detik untuk semua tipe, dan kadar formaldehida bebas hingga 75 mg/kg untuk semua tipe.

Selanjutnya, ketahanan luntur warna terhadap pencucian, keringat asam dan basa, serta saliva. SNI 8914:2020 juga menetapkan kadar logam terekstraksi maksimum, ketahanan terhadap pembahasan permukaan minimum melalui uji siram, kadar PFOS dan PFOA pada masker kain yang menggunakan anti air, serta nilai aktivitas antibakteri minimum pada masker kain yang menggunakan antibakteri.

SNI ini menjadi pedoman bagi industri dalam negeri yang menentukan capaian minimum kualitas hasil produksinya sekaligus menjadi standar minimum bagi produk impor.

"Semua orang tidak siap dengan adanya pandemi ini. Jadi, banyak sampah masker yang menumpuk sejak awal pandemi di mana-mana dan orang buangnya dicampur dengan sampah-sampah lain," Kata Ketua Umum Adupi Christine Halim kepada Bisnis.

Pengumpulan bahan baku selama pandemi turun lebih dari 50 persen pada periode yang sama tahun lalu. Alhasil, Christine meramalkan volume produksi pada 2020 akan anjlok setidaknya 50 persen dibandingkan realisasi 2019.

Masalah limbah masker medis tersebut turut berkontribusi membuat sebagian besar pengepul sampah plastik gulung tikar. Sementara itu, sekitar 30-40 persen pabrikan daur ulang plastik menghentikan produksinya per September 2020.

Pihaknya telah mencoba menyurati Kemenperin mengenai masalah tersebut. "Sudah mencoba [memulai] diskusi, tapi masih tidak ada respon," kata Christine.

Industri daur ulang tampaknya memang sedang pusing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Limbah B3 daur ulang masker
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top