Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PD Banget, Pemerintah Bilang Resesi Ekonomi Indonesia Tak Separah Negara Lain

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan mengakui Indonesia akan mengalami resesi. Namun, resesi ini tidak separah negara lain.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 01 Oktober 2020  |  15:39 WIB
Seorag pria menelepon dengan latar belakang gedung perkantoran di kawasan bisnis terpadu Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta. -  Antara Foto/Andika Wahyu.
Seorag pria menelepon dengan latar belakang gedung perkantoran di kawasan bisnis terpadu Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta. - Antara Foto/Andika Wahyu.

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah akhirnya mengakui bahwa ekonomi Indonesia mengalami resesi tahun ini. Kendati demikian, pemerintah cukup percaya diri bahwa resesi yang menimpa perekonomian Indonesia tidak akan separah negara lainya.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menjelaskan indikasi pelemahan ekonomi memang sudah tampak sejak awal tahun. Apalagi pemerintah saat ini juga sudah melihat bahwa pada kuartal II/2020 dan kuartal III/2020 perekonomian berpotensi mengarah ke angka negatif.

"Ini sudah jelas resesi, tetapi dalam menilai resesi ini penting untuk melakukan perbandingan yang fair," kata Febrio, Kamis (1/10/2020).

Febrio menekankan sebagian besar negara di dunia mengalami nasib serupa dengan Indonesia. Ekonomi berangsur turun karena pandemi yang tak jelas kapan berakhir. Beberapa negara bahkan mencatatkan resesi yang lebih parah dari Indonesia.

Dia mengambil contoh India yang tercatat minus 24 persen atau negara-negara lainnya yang mayoritas ekonominya terkontraksi di kisaran 10 persen - 15 persen.

Dengan demikian, lanjut Febrio, meski Indonesia mengalami resesi namun cara melihatnya harus menggunakan perpektif yang luas. Apalagi jika ekonomi Indonesia hanya minus 1,7 persen - minus 0,6 persen kondisi ini jauh lebih baik dengan kondisi perekonomian negara-negara di atas.

"Kita mengatakan bahwa ini adalah masalah yang sangat berat. Tetapi kita juga melakukan targeting dan tetap berhati-hati," tukasnya.

Seperti diketahui, Kementerian Keuangan mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi dari sebelumnya -1,1 persen - 0,2 persen menjadi -1,7 persen hingga -0,6 persen. Perubahan outlook ini dilakukan melihat perkembangan ketidakpastian akibat pandemi yang terus berlangsung.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa perkembangan kasus Covid-19 akan mempengaruhi aktivitas ekonomi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dia menjelaskan dari sisi permintaan di kuartal III/2020 konsumsi rumah tangga masih diperkirakan pada zona kontraksi yaitu minus 3 persen hingga minus 1,5 persen dengan total outlook 2020 konsumsi kita berarti pada kisaran kontraksi minus 2,1 persen hingga minus 1 persen.

"Untuk konsumsi pemerintah di Kuartal ketiga karena akselerasi belanja yang luar biasa mengalami positif sangat tinggi hingga 17 persen," kata Sri Mulyani, Selasa (22/9/2020).

Sri Mulyani menambahkan bahwa peningkatan kinerja konsumsi pemerintah tersebut didorong oleh kebijakan belanja atau ekspansi sebagai cara untuk counter cyclical.

Adapun Sri Mulyani menambahkan bahwa hampir sebagian besar lembaga global memproyeksikan memang memproyeksikan ekonomi Indonesia akan terkontraksi hingga akhir tahun. OECD, misalnya, lembaga tersebut memperkirakan ekonomi Indonesia akan berada di kisaran minus 3,3 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Resesi bkf
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top