Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Survei ITS: Penumpang Laut Ingin Rapid Test Dihapus dan Tarif Bisa Naik 10 Persen

Dalam rangka penerapan protokol kesehatan di moda laut dan SDP, tarif penumpang bisa dinaikkan tidak lebih dari 10 persen dan tidak ada persyaratan rapid test atau PCR.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 30 September 2020  |  05:52 WIB
Ilustrasi. - Antara/Syifa Yulinnas
Ilustrasi. - Antara/Syifa Yulinnas

Bisnis.com, JAKARTA - Hasil penelitian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menunjukkan di masa pandemi Covid-19 ini penumpang angkutan laut, sungai, danau, dan penyeberangan dapat tetap bertahan jika terjadi kenaikan harga tiket paling tinggi 10 persen.

Peneliti Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) ITS Surabaya Agnes Tri Rumiati menuturkan berdasarkan data analisis yang dilakukan atas dasar respons masyarakat terhadap dampak sektor Transportasi Laut atas Covid-19 ada kecenderungan agar harga tetap seperti sebelumnya.

"Jika biaya transportasi Laut harus dinaikan, batas kenaikan yang dapat diterima adalah maksimal sebesar 10 persen. Selain itu, masyarakat meminta biaya Rapid Test yang lebih terjangkau," katanya dalam Webinar Seri #7 Balitbang Kemenhub, Selasa (29/9/2020).

Dia menyebut masyarakat juga mempersepsikan bahwa transportasi laut memiliki tingkat penyebaran Covid-19 yang rendah karena penerapan protokol kesehatan yang optimal.

Dari hasil surveinya, penumpang juga meragukan dengan fasilitas rapid test yang menjadi syarat wajib sebelum bepergian dan mengharapkan syarat tersebut dihilangkan saja.

"Dalam rangka penerapan protokol kesehatan di moda laut dan SDP, tarif penumpang bisa dinaikkan tidak lebih dari 10 persen dan tidak ada persyaratan rapid test atau PCR. Penumpang mau memenuhi persyaratan rapid test atau PCR, asal tarif penumpang tetap atau tdk dinaikan," terangnya.

Selain itu, Agnes menekankan alasan penumpang menggunakan angkutan laut dan SDP selama pandemi Covid-19 mayoritas karena daerah tujuan hanya dapat dijangkau oleh kendaraan laut atau sebanyak 44 persen responden. Alasan lainnya, ada kecenderungan risiko penyebaran Covid-19 dianggap lebih rendah melalui laut sebanyak 20 persen responden.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Kemenhub Agus Purnomo menuturkan pemerintah sudah melaksanakan protokol kesehatan yang sangat ketat di angkutan laut terutama kapal penumpang.

"Terbatasnya aktivitas lain selain angkutan laut turut membuat angkutan laut ada yang meningkat, Pelni  dengan kapal besar jarak jauh okupansi sudah lumayan. Mereka tetap tidak full karena terapkan protokol kesehatan, tapi okupansinya lumayan," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementerian perhubungan asdp angkutan laut
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top