Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bisnis Angkutan Umum Bergantung pada Protokol Pandemi

Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai masa depan angkutan umum massal bergantung pada kesiapan operatornya dalam melaksanakan protokol kesehatan selama pandemi.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 28 September 2020  |  14:10 WIB
Sejumlah angkutan umum terparkir di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, Jumat (2/8/2019). Bisnis - Arief Hermawan P
Sejumlah angkutan umum terparkir di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, Jumat (2/8/2019). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah dan para operator angkutan umum massal diminta mulai memikirkan pembentukan prosedur standar operasi guna menghadapi kemungkinan pandemi di masa mendatang yang seperti Covid-19.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Harya S. Dillon menuturkan saat menghadapi pandemi Covid-19, para operator angkutan umum cukup sulit melakukan adaptasi operasinya karena memang belum pernah mengalami pandemi seperti itu.

"Ini harusnya jangka panjangnya pemerintah, akademisi, operator sama-sama susun, SOP bencana pandemi. Contohnya, bus Transjakarta yang sudah memiliki SOP bencana gempa dan huru hara, koridor 1, 2, 3 begitu sering mempraktekan SOP huru hara," jelasnya, Senin (28/9/2020).

Lebih lanjut, Harya menuturkan pandemi Covid-19 merupakan pengalaman baru bagi Indonesia dan para pelaku transportasi massal, sehingga wajar jika sempat terjadi keterlambatan saat beradaptasi.

Menurutnya, ketika pemerintah memberikan bus gratis bagi pengguna kereta rel listrik (KRL) selalu penuh dan diminati masyarakat menjadi bahan pembelajaran. Pasalnya, hal ini mengingatkan para operator, pengguna angkutan umum sensitif waktu tunggu, semakin lama menunggu angkutan umum semakin rendah tingkat kepuasan.

"Di sisi lain, ketika pandemi, perlu meningkatkan kapasitas KCI, headway semakin rapat waktu tunggu semakin sedikit. Bencana ini juga tidak ada SOP dan protokol kesehatan memperbesar jarak penumpang membuat load factor turun, sehingga kapasitas KRL harusnya dinaikkan [jumlah gerbong]," paparnya.

Sementara, Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan Polana B. Pramesti menuturkan memang pandemi Covid-19 menjadi pengalaman baru bagi para pelaku transportasi termasuk angkutan umum massal di Jabodetabek.

"Indonesia masih dalam masa pandemi, kami belum punya pengalaman, learning by doing jadinya, perbaiki prosedur-prosedur sambil berjalan. Masyarakat paling penting jangan berkegiatan di luar rumah kalau tidak penting, memang sudah 7 bulan masyarakat bosan di rumah, tetapi di rumah bisa dimanfaatkan dengan kegiatan yang baik," terangnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

transportasi BPTJ-Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top