Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dongkrak Kapasitas Produksi Paraxylene, TPPI Gelontorkan US$180 Juta

PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) akan melakukan proyek revamping atau pembenahan guna meningkatkan kapasitas produksi di Tuban, Jawa Timur. Khususnya untuk Paraxylene yang akan menelan biaya US$180 juta.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 25 September 2020  |  11:37 WIB
TPPI Tuban. Untuk mengurangi impor paraxylene pada 2021, TPPI akan memproduksi sejumlah 280.000 ton per tahun paraxylene, selain juga memproduksi Pertamax.  - BIsnis.com
TPPI Tuban. Untuk mengurangi impor paraxylene pada 2021, TPPI akan memproduksi sejumlah 280.000 ton per tahun paraxylene, selain juga memproduksi Pertamax. - BIsnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) akan melakukan proyek revamping atau pembenahan guna meningkatkan kapasitas produksi di Tuban, Jawa Timur. Khususnya untuk paraxylene yang akan menelan biaya US$180 juta.

Paraxylen diproduksi dari kondensat atau naphta. Adapun produk turunan paraxylen sebagian besar berupa purified terehthalic acid (TPA) yang menjadi komponen utama industri tekstil. Produk turunan lainnya juga terkait erat dengan kehidupan sehari-hari, seperti wadah telepon genggam alias casing, dan dashboard kendaraan bermotor.

Presiden Komisaris PT TPPI Ardhy N. Mokobombang mengatakan saat ini di TPPI Tuban terdapat proyek revamping atas platforming dan aromatik yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas platforming unit dari 50.000 barrel per hari menjadi 55.000 barrel per hari.

"Tak hanya itu, ada pula penambahan kapasitas produksi paraxylene 600.000 ton per tahun menjadi 780.000 ton per tahun dengan biaya pembangunan sebesar US$180 juta," katanya melalui siaran pers, Jumat (25/9/2020).

Presiden Direktur TPPI Yulian Dekri menyebut pekerjaan Basic Engineering Design Package (BEDP) yang sedang dikerjakan oleh UOP sejak Maret 2020, akan ditargetkan selesai pada akhir September 2020.

Menurutnya pembangunan lima tangki saat ini sedang dalam tahap pembangunan yang diperkirakan secara keseluruhan tangki-tangki tersebut akan selesai pada pertengahan Desember 2021.

Yulian mengemukakan proyek revamping TPPI akan dilaksanakan pada awal 2022 bersamaan dengan pelaksanaan turn around, sehingga pada kuartal I/2022 diharapkan kilang sudah dapat beroperasi secara penuh.

“Terkait dengan dukungan TPPI untuk mengurangi produk impor paraxylene, kami sudah mulai mengoperasikan unit produksi paraxylene sejak Agustus 2020 secara dual mode yang menghasilan produk petrokimia dan produk BBM dan akan ditingkatkan secara bertahap,” katanya.

Sementara itu, kebutuhan domestik paraxylene saat ini tercatat 1 juta ton per tahun, sedangkan pemasok dari dalam negeri selain TPPI adalah Kilang RU IV Pertamina yang mempunyai kapasitas produksi 200.000 ton per tahun. Dengan demikian, selama TPPI tidak berproduksi, terdapat paraxylene impor sekitar 800.000 ton per tahun.

Untuk mengurangi impor paraxylene pada 2021, TPPI akan memproduksi sejumlah 280.000 ton per tahun paraxylene, selain juga memproduksi Pertamax.

Bersama dengan produksi paraxylene Pertamina sebesar 220.000 ton per tahun, total produksi paraxylene dalam negeri menjadi 500.000 ton per tahun atau dapat mengurangi impor sejumlah 50% dari kebutuhan dalam negeri dan menurunkan defisit transaksi berjalan sesuai arahan Presiden Joko Widodo saat mengadakan kunjungan ke TPPI tahun lalu.

Pada 2022, dengan selesainya proyek revamping tersebut, TPPI pun memproyeksi dapat meningkatkan produksi paraxylene menjadi 780.000 ton per tahun, sehingga tambahan produksi tersebut dapat memenuhi seluruh kebutuhan paraxylene dalam negeri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

petrokimia tppi tuban petro
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top