Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bisnis Properti Hong Kong Habis-habisan Dipukul 4 Faktor Ini

Pasar perumahan Hong Kong mengalami pukulan hebat baru-baru ini, mulai dari tindakan pendinginan pasar, dampak dari protes kekerasan, perang perdagangan AS-China, hingga wabah Covid-19.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 16 September 2020  |  15:42 WIB
Gemelap properti Hong Kong pada malam hari./Bloomberg - Paul Yeung
Gemelap properti Hong Kong pada malam hari./Bloomberg - Paul Yeung

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar perumahan Hong Kong mengalami pukulan hebat baru-baru ini, mulai dari tindakan pendinginan pasar, dampak dari protes kekerasan terkait UU Keamanan Nasional baru, perang perdagangan AS-China, hingga wabah Covid-19.

Harga properti residensial Hong Kong turun 2,64 persen sepanjang tahun hingga Q2 2020, setara dengan penurunan 2,44 persen tahun sebelumnya. Namun, secara triwulanan harga rumah naik 2,31 persen pada Q2 2020.

Selama dekade terakhir, harga properti residensial Hong Kong meroket 153 persen, disesuaikan dengan inflasi.

Sebaliknya, pendapatan riil hampir mandek di Hong Kong selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, Pemerintah Hong Kong bersandar pada kenaikan harga properti.

Pemerintah menaikkan bea materai untuk semua pembeli rumah kedua dan seterusnya—bukan rumah pertama—mulai November 2016 dan memotong pinjaman yang diizinkan untuk properti hunian dan komersial pada Mei 2017.

Pada Juni 2018, Kepala Eksekutif Carrie Lam mengungkapkan serangkaian tindakan pendinginan lainnya, termasuk pajak terhadap flat kosong.

Pada paruh pertama 2020, jumlah penjualan primer di Hong Kong turun 48,9 persen y-o-y menjadi 6.410 unit dan nilai penjualan turun 49,2 persen y-o-y menjadi HK$69,53 miliar, menurut Departemen Pemeringkatan dan Penilaian (RVD).

Di pasar sekunder, jumlah penjualan turun 5,1 persen menjadi 20.867 unit pada semester I 2020 dari tahun sebelumnya, dan nilai penjualan turun 8,2 persen menjadi HK$168,69 miliar pada periode yang sama.

Konstruksi perumahan menurun. Pada 2019 penyelesaian turun sebesar 35 persen dari tahun sebelumnya, setelah y-o-y naik 18 persen pada 2018, 22 persen pada 2017, dan 29 persen pada 2016.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti hong kong

Sumber : Global Property Guide

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top