Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penjualan Gas Bontang, Pertamina Bakal Ikuti Arahan Pemerintah

Tidak diperbaruinya kontrak tersebut tidak diperbarui karena adanya kondisi kelebihan pasokan oleh Jepang.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 15 September 2020  |  17:00 WIB
Fasilitas produksi Pertamina Hulu Mahakam. Istimewa - SKK Migas
Fasilitas produksi Pertamina Hulu Mahakam. Istimewa - SKK Migas

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pertamina (Persero) mengikuti arahan pemerintah terkait dengan penjualan gas Bontang yang tidak diperpanjang oleh pembeli dari Jepang.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan komitmen untuk ekspor liquefied natural gas (LNG) juga dipengaruhi oleh produksi, kebutuhan dalam negeri, dan juga kebutuhan tujuan ekspor.

Dengan demikian, tidak diperpanjangnya komitmen oleh Western Buyer Extention (WBX) dipengaruhi oleh faktor eksternal yang terjadi oleh pembeli.

"Pertamina akan menindaklanjuti arahan pemerintah terkait dengan berakhirnya kontrak tersebut. Ada yang sedang dalam proses perpanjangan juga, tapi kami belum dapat menyampaikan detailnya," katanya kepada Bisnis, Senin (14/9/2020).

Sebelumnya,  Susana Kurniasih, Plt. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, membenarkan kabar tidak diperpanjangnya kontrak jual beli LNG oleh sejumlah perusahaan Jepang tersebut.

Dia menuturkan bahwa kontrak tersebut tidak diperbarui karena adanya kondisi kelebihan pasokan oleh Jepang. Tetapi, Susana mengatakan bahwa komitmen dari gas Bontang yang ditinggalkan oleh pembeli Jepang seluruhnya sudah mendapakatkan komitmen baru.

“Telah ada komitmen dengan Kyushu untuk periode 2021—2022 masing-masing dua kargo. Selain itu, terdapat deal dengan Shell untuk periode 2021—2025 total 25 kargo,” katanya kepada Bisnis, Jumat (11/9/2020).

Mengutip dari Bloomberg, sumber yang mengetahui kabar menyebutkan bahwa Kyushu Electric Power Co., salah satu dari enam perusahaan utilitas Jepang dalam konsorsium pembeli, tidak akan memperbarui kontraknya. Toho Gas Co. juga akan mengakhiri kontrak.

Kyushu Electric tidak memiliki rencana untuk memperbarui karena memiliki kelebihan pasokan, kata Hiroyuki Tsunetomi, seorang pejabat eksekutifnya, dalam wawancara telepon pada Selasa (8/9/2020).

Toho, menurut orang yang mengetahui hal tersebut, menginformasikan kepada Pertamina bahwa kontrak jual beli LNG Bontang tidak akan diperpanjang karena alasan harga yang lebih mahal. Ketika dikonfirmasi, seorang juru bicara Toho menolak berkomentar terkait dengan informasi tersebut.

Adapun, Juru Bicara Jera Co. Atsuo Sawaki menuturkan bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan bagaimana mendapatkan volume yang diperlukan setelah kontrak berakhir pada akhir Desember mendatang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina gas
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top