Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penanganan Covid-19 Tidak Serius, Investasi Bisa Minus

Menurut ekonom Indef, faktor pandemi Covid-19 bisa menjadi acuan investor untuk menaruh uang.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 14 September 2020  |  20:21 WIB
Sejumlah pekerja berjalan usai bekerja dengan latar belakang gedung perkantoran di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (16/4/2020). Pemprov DKI Jakarta akan memberikan sanksi berupa mencabut perizinan kepada perusahaan yang tetap beroperasi di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kecuali delapan sektor yang memang diizinkan. - ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Sejumlah pekerja berjalan usai bekerja dengan latar belakang gedung perkantoran di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (16/4/2020). Pemprov DKI Jakarta akan memberikan sanksi berupa mencabut perizinan kepada perusahaan yang tetap beroperasi di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kecuali delapan sektor yang memang diizinkan. - ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA - Realisasi investasi Indonesia pada semester awal baru mencapai 49,3 persen atau Rp402,6 triliun dari total target tahun ini sebesar Rp817,2 triliun.

Artinya, pemerintah perlu mengejar Rp414,6 triliun dana investasi pada sisa dua kuartal terakhir tahun ini.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan bahwa tren investasi sudah menunjukkan angka negatif sejak awal tahun sebelum pandemi Covid-19 masuk ke Tanah Air.

Pada kuartal I/2020 total penanaman hanya tumbuh 1,2 persen dibandingkan periode sebelumnya. Sementara triwulan II anjlok -8,9 persen.

Menurutnya, kondisi ini membuat Indonesia tidak masuk tujuan investasi saat banyak perusahaan besar yang berlokasi di China pindah kantor. Enny mencatat selain pandemi, utamanya adalah regulasi yang tidak ramah investor.

Di sisi lain, penyebaran Covid-19 tidak menunjukkan penurunan. Padahal negara lain sudah mulai melandai. Faktor tersebut bisa menjadi acuan investor untuk menaruh uang.

Padahal, investor melihat dua hal apabila ingin menanamkan modal. Semuanya adalah potensi keuntungan dan potensi resiko.

“Sekalipun profitnya di Indonesia tinggi tapi resikonya besar, orang akan mundur,” katanya saat dihubungi, Senin (14/9/2020).

Enny menjelaskan bahwa dengan kebijakan pemerintah yang memberikan stimulus dalam bentuk pembebasan sewa lahan atau pengurangan pajak, itu tidak akan terlalu berpengaruh.

Kasus positif yang terus bertambah membuat pengusaha tidak menarik berinvestasi. Apalagi bagi investor asing yang bisa menghadapi kendala, ketika negaranya melarang kunjungan ke Indonesia.

“Jadi harus diletakkan proporsional. Jangan salahkan PSBB [pembatasan sosial berskala besar]. Salahkan penanganan Covid-19 yang masih sembarangan, tidak serius, dan tidak komprehensif sehinga masih fluktuatif,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi covid-19
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top