Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kemenperin Optimistis Industri Baja Positif Akhir Tahun

Indonesia Iron and Steel Industry Assocation (IISIA) mendata rata-rata utilisasi industri baja per Agustus 2020 telah mencapai kisaran 50-60 persen.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 14 September 2020  |  18:26 WIB
Petugas beraktivitas di pabrik pembuatan baja Kawasan Industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/10/2019). ANTARA FOTO - Fakhri Hermansyah
Petugas beraktivitas di pabrik pembuatan baja Kawasan Industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/10/2019). ANTARA FOTO - Fakhri Hermansyah

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis volume produksi industri baja nasional pada ahir 2020 akan tumbuh positif. 

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin Taufiek Bawazier mengatakan pertumbuhan positif di akhir 2020 didorong oleh perbaikan rata-rata utilisasi industri baja per Agustus 2020.

Namun demikian, Taufiek mengakui utilisasi per Agustus 2020 masih jauh dari kondisi normal. 

"[Utilisasi industri baja] itu sudah tinggi, di era [pandemi] Covid-19 ya. Karena pembandingnya adalah [utilisasi sebelumnya] di era Covid juga. Jangan [dibandingkan] pas kondisi normal sebelum [pandemi. Kalau kondisi normal, [utilisasi industri baja] itu 70-75 persen," katanya kepada Bisnis, Senin (14/9/2020). 

Indonesia Iron and Steel Industry Assocation (IISIA) mendata rata-rata utilisasi industri baja per Agustus 2020 telah mencapai kisaran 50-60 persen. Adapun, angka tersebut meningkat pesat dari posisi bulan sebelumnya di kisaran 30-40 persen. 

Bawazier menilai peningkatan utilisasi tersebut akan terjaga dan akan meningkat hingga akhir tahun. Menurutnya, peningkatan tersebut akan didorong oleh perusahaan-perusahaan milik negara yang melanjutkan proyek konstruksinya di kuartal IV/2020. 

"Konstruksi itu kan [sumber] permintaan baja terbesar atau hingga 51 persen. [Industri baja nasional] bisa supply ke proyek-proyek strategis, khususnya [milik] BUMN. Goverment procurement sangat menentukan [pertumbuhan industri logam akhir 2020]," katanya. 

Di sisi lain, Taufiek mendata laju pertumbuhan industri logam nasional tumbuh 2,76 persen secara tahunan pada kuartal II/2020. Adapun, industri baja yang berkontribusi sekitar 61,59 persen pada industri logam tumbuh 1,7persen secara tahunan. 

Dengan kata lain, ujar Taufiek, industri baja menyumbang hampir 9 persen kepada total pertumbuhan industri manufaktur. Taufiek berpendapat pertumbuhan industri baja pada kuartal II/2020 disebabkan oleh pemanfaatan volume pasar di dalam negeri yang efektif selama pandemi. 

Walakin, pertumbuhan laju lapangan usaha industri logam pada kuartal II/2020 mayoritas didorong oleh kegiatan ekspor industri baja nirkarat di Morowali.

Akan tetapi, Taufiek menyampaikan pertumbuhan industri logam per kuartal II/2020 juga menunjukkan bahwa juga terdapat pertumbuhan pada industri baja existing. 

Berdasarkan data IISIA, utilisasi pabrikan per Agustus telah membaik ke kisaran 40-70 persen. Adapun, pandemi Covid-19 memukul utilisasi pabrikan ke level 20-50 persen sekitar April-Juli 2020. 

"Pertumbuhan permintaan otomatis [mengikuti pertumbuhan utilisasi pabrikan]. Bahkan, untuk produk flat permintaan sudah 100 persen normal," kata Ketua Umum IISIA Silmy Karim kepada Bisnis.

Dengan kata lain, permintaan baja per Agustus naik hingga 40 persen per Agustus 2020. Silmy menduga peningkatan permintaan tersebut disebabkan oleh ramalan bahwa harga baja di seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan melonjak pada kuartal IV/2020. 

Alhasil, industri pengguna baja dan industri hilir baja yang notabenenya masuk ke dalam industri komponen konstruksi menggenjot pembelian bahan baku.

Dengan minimnya stok baja di gudang industri pada kuartal II/2020, transmisi peningkatan permintaan langsung terjadi ke utilisasi pabrikan.

Walaupun harga baja diramalkan akan naik pada 3 bulan terakhir 2020, Silmy optimistis permintaan pada semester II/2020 akan lebih baik daripada semester I/2020. 

"Market belum tentu bisa menerima [peningkatan harga baja]. Namun, saya belum bisa perkirakan [pasti kondisi industri baja kuartal IV/2020]," katanya. 

Di sisi lain, sebagai Direktur Utama PT Krakatau Steel, Silmy menyampaikan pihaknya memilih pasar domestik sebagai fokus utama dengan dasar hal tersebut dapat membantu neraca dagang industri baja nasional.

Seperti diketahui, impor besi dan baja menempati urutan ketiga sebagai produk dengan nilai impor tertinggi beberapa tahun terakhir. 

"Artinya, rupiah tidak ikut tertekan [kalau KS bantu mengurangi impor di pasar domestik]. Jadi, lebih bagus jaga pasar domestik," ucapnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri baja kemenperin
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top