Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Apindo : Dampak Rem ke Ekonomi Lebih Cepat Daripada Gas Pemulihan

Pelaku usaha tak memiliki banyak pilihan karena kebijakan PSBB hadir sebagai upaya pencegahan wabah yang lebih parah.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 10 September 2020  |  18:46 WIB
Karyawan melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta, Senin (8/6/2020). Pekan kedua masa pembatasan sosial berskala berskala besar (PSBB) transisi, Pemprov DKI Jakarta mulai memperbolehkan karyawan di perkantoran kembali bekerja dengan kapasitas karyawan hanya dibolehkan sebanyak 50 persen dari jumlah karyawan dalam satu ruangan. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Karyawan melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta, Senin (8/6/2020). Pekan kedua masa pembatasan sosial berskala berskala besar (PSBB) transisi, Pemprov DKI Jakarta mulai memperbolehkan karyawan di perkantoran kembali bekerja dengan kapasitas karyawan hanya dibolehkan sebanyak 50 persen dari jumlah karyawan dalam satu ruangan. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA -- Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi mengemukakan penurunan ekonomi pada kuartal III/2020 menjadi tak terhindari dengan pemberlakuan PSBB ketat mulai 14 September mendatang.

Dia menyebutkan penurunan terjadi karena dampak rem berupa pembatasan aktivitas bakal lebih cepat terjadi dibandingkan dengan gas pemulihan ekonomi yang cenderung berjalan lambat.

Hal ini setidaknya terlihat dari performa ekonomi nasional yang beranjak pulih dan membutuhkan waktu lama sejak PSBB DKI Jakarta memasuki masa transisi pada Juni.

“PSBB dimulai 14 September artinya setengah bulan sudah ditarik turun. Ngerem itu lebih cepat drop-nya daripada saat kita melepas gas. Pemulihan perlu waktu, tapi rem membuat ekonomi langsung drop,” kata Hariyadi kepada Bisnis, Kamis (10/9/2020).

Meski demikian, Hariyadi mengaku pelaku usaha tak memiliki banyak pilihan karena kebijakan ini hadir sebagai upaya pencegahan wabah yang lebih parah. Dalam hal ini, dia menilai penanganan kesehatan tetap perlu menjadi prioritas.

“Tinggal bagaimana kesehatan kesehatan ini ditangani serius. Ekonomi mungkin akan banyak tertekan karena tidak semua sektor bisa beralih ke online atau bergerak dengan remote working,” lanjut Hariyadi.

Senada, Wakil Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani pun mengatakan bahwa PSBB bukanlah kondisi ideal bagi pelaku usaha karena mematikan aktivitas serta menekan permintaan masyarakat.

Kondisi ini dirasa sulit karena pada masa transisi pun pelaku usaha sudah berupaya keras untuk mempertahankan eksistensi seiring dengan menipisnya modal.

Shinta mengaku khawatir pelaku usaha sektor riil, terutama yang berskala mikro dan kecil menengah bakal banyak yang mati karena tidak bisa bertahan.

Hal lebih parah akan terjadi apabila PSBB diberlakukan dalam waktu yang lama dan tak diiringi dengan hasil penanganan Covid-19 yang memuaskan. Selain itu, angka pengangguran di sektor informal disebutnya bisa meningkat lebih banyak ke depannya.

“Khususnya di sektor informal, yang menyerap lebih dari separuh tenaga kerja nasional, akan meningkat lebih cepat. Namun, pada saat yang sama kami juga memahami urgensi kebijakan ini terhadap pengendalian Covid-19,” kata Shinta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

covid-19 Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pemulihan ekonomi
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top