Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi Kuartal III Masuk Zona Pertumbuhan Nol Persen, Ini Kata Sri Mulyani

Kepulihan dari kegiatan perdagangan pada Juli ternyata juga tidak cukup stabil, kuat, dan bertahan seperti yang diharapkan oleh pemerintah.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 Agustus 2020  |  02:28 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan kondisi terkini perekonomian Indonesia dalam sebuah teleconference, Jumat (17/4) - Kementerian Keuangan (Screenshoot)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan kondisi terkini perekonomian Indonesia dalam sebuah teleconference, Jumat (17/4) - Kementerian Keuangan (Screenshoot)

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi mendekati nol persen pada triwulan III 2020 setelah triwulan II terkontraksi 5,32 persen membutuhkan upaya sangat keras.

"Kami sangat hati-hati bahwa kuartal III untuk bisa masuk ke zona nol persen itu butuh perjuangan yang luar biasa berat," katanya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Selasa (25/8/2020).

Hal itu karena, menurut Sri Mulyani, beberapa kegiatan masyarakat dan ekonomi ternyata tidak mengalami akselerasi yang cepat pada Juli meskipun sudah terdapat pembalikan di beberapa sektor.

"Kalau lihat per sektor, kita lihat terekam dari kegiatan pembayaran pajaknya," ujarnya.

Ia menyebutkan untuk industri pengolahan masih terkontraksi pada Juli namun lebih baik dibandingkan Juni dan Mei.

"Mei paling dalam. Kami berharap tren ini terus membaik seiring dengan kalau konsumsi listrik dan kegiatan di industri mulai meningkat," katanya.

Sementara itu, ia mengatakan untuk perdagangan meskipun sudah terjadi relaksasi ternyata belum menunjukkan adanya pembaikan dari sisi penerimaan pajak.

"Pada Juli bahkan kontraksinya lebih dalam dari Juni meskipun keduanya lebih baik dari Mei yang kontraksinya sampai 40 persen," katanya.

Sri Mulyani menuturkan kepulihan dari kegiatan perdagangan pada Juli ternyata juga tidak cukup stabil, kuat, dan bertahan seperti yang diharapkan oleh pemerintah.

"Tadinya kami harapkan Juli lebih baik dari Juni, ternyata tidak. Jadi ini harus kita waspadai dari sisi perdagangan. Ini nanti akan ada hubungannya dengan pengembalian konsumsi masyarakat," tegasnya.

Di sisi lain, untuk jasa keuangan masih konsisten membaik yaitu hanya terkontraksi 6,89 persen dibandingkan Juni yang sampai 11 persen dan minus 30 persen pada Mei.

Untuk konstruksi juga mengalami pembaikan namun pada Juli ternyata tidak membaik secara konsisten dibanding Juni. "Bahkan, Juli lebih dalam dari Juni," ujarnya.

Untuk sektor pertambangan masih konsisten kontraktif hampir mirip dengan Juni, sedangkan transportasi dan pergudangan yang pada Juni sudah membaik di level positif ternyata pada Juli kembali masuk zona negatif.

"Peta ini menggambarkan bahwa pemulihan ekonomi kita pada Juli masih sangat rapuh dan bahkan bisa terjadi pembalikan kembali," katanya.

Oleh karena itu, Sri Mulyani berusaha untuk menjaga ekonomi Indonesia agar tidak resesi dan mengupayakan berada di zona netral serta mengalami pemulihan.

"Kita lihat apakah pada Agustus tren ini tetap bisa bertahan di zona mendekati nol. Kita terus menjaga agar tidak mencapai resesi. Mungkin kita dalam hal ini masih struggle untuk bisa recover pada zona netral,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top