Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Sjarief Widjaja

Sjarief Widjaja

Kepala Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan
email Lihat artikel saya lainnya

Mencetak SDM Unggul Sektor Perikanan Nasional

Pendidikan kelautan dan perikanan membutuhkan waktu 10 tahun untuk produktif dan menjadi bagian aset nasional setidaknya. Namun dengan konsep pembelajaran teori yang dipadukan dengan field study ini, dalam waktu 2 tahun taruna sudah terlibat aktif dalam sistem produksi pangan nasional.
Bisnis.com - 24 Agustus 2020  |  11:43 WIB
Ilustrasi: ikan tangkapan nelayan
Ilustrasi: ikan tangkapan nelayan

Pandemi Covid-19 bukan hanya musibah bagi dunia kesehatan tetapi juga menghambat kegiatan ekonomi masyarakat. Keadaan ini juga dikhawatirkan memicu kenaikan jumlah penduduk miskin dan pengangguran. Untuk itu, upaya pemulihan ekonomi segera menjadi tanggung jawab bersama.

Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu elemen yang dapat tumbuh dengan cepat. Sesuai arahan Presiden Joko Widodo untuk membantu pemulihan dampak Covid-19, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah giat mengembangkan sektor perikanan budidaya. Indonesia memiliki potensi lahan budidaya mencapai 2 juta hektar.

Kurang lebih 600.000 hektar di antaranya telah dicetak sebagai lahan tambak tetapi hanya sekitar 200.000 hektar yang telah dikelola efektif. Potensi ini merupakan peluang besar yang dapat dimanfaatkan untuk membantu memulihkan perekonomian bangsa. Terlebih ada sekitar 271 juta penduduk Indonesia yang membutuhkan asupan pangan.

Tingkat konsumsi ikan nasional pada 2019 sebesar 54,49 kg per kapita. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibutuhkan sekitar 14,76 juta ton ikan per tahun. Ini merupakan peluang pasar yang sangat besar. Oleh karena itu pemerintah mendorong peningkatan pemaanfaatan sekitar 400.000 hektar tambak-tambak yang ditelantarkan.

Optimalisasi ditargetkan setidaknya 100.000 hektar tambak dengan sistem intensifikasi dan pelaksanaannya menggandeng Politeknik Kelautan dan Perikanan (Poltek KP), Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan, dan Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM).

Institusi pendidikan memiliki kontribusi besar dalam menghasilkan tenaga terampil yang akan mengelola program optimalisasi tambak tersebut. Menyadari bahwa penetapan pola pembelajaran daring di tengah pandemi Covid-19 tak cukup untuk menghasilkan lulusan yang bersifat vokasi, KKP mengawinkannya dengan pembentukan field study (lahan praktik).

Lahan ini disulap menjadi model percontohan tambak intensif terintegrasi silvofisheries (tambak mangrove). Misalnya tambak 10 hektar yang dibangun di lahan praktik Poltek KP Sidoarjo di Pulokerto, Pasuruan, Jawa Timur.

Pola pembelajaran yang dikembangkan berupa konsep dasar budidaya yang dikombinasikan dengan teaching factory atau praktik kerja langsung, bukan sekadar praktik di laboratorium. Lahan praktik ini juga akan dikembangkan di lahan tambak yang ditelantarkan masyarakat.

Silvofisheries diharapkan menjamin peningkatan pendapatan bagi masyarakat sekaligus membangun biosecurity di sekitar wilayah tambak dan diharapkan pula dapat memaksimalkan keuntungan ekonomi dengan tetap mempertahankan kondisi kawasan hutan yang ideal.

Selain udang vaname sebagai komoditas utama, model tambak tersebut dapat dipadukan dengan budidaya komoditas ikan bandeng, kepiting bakau, udang windu, lobster, kekerangan, hingga rumput laut. Bagaimana mewujudkannya?

Kami memiliki beberapa sumber pembiayaan, salah satunya Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP). Dalam hal ini telah disepakati kerja sama pembiayaan pihak ketiga yang akan menjadi lokasi pengembangan tambak intensif terintegrasi tersebut.

Untuk tahap awal akan dibangun percontohan di 13 kampus, antara lain Poltek KP Bone, Poltek KP Pangandaran, Poltek KP Sorong, Poltek KP Jembrana, dan SUMP Pariaman. Dengan luas lahan keseluruhan sekitar 20 hektar, pembangunan akan dimulai akhir Agustus mendatang.

Sekitar 50% taruna institusi pendidikan KKP merupakan anak pelaku utama sektor kelautan dan perikanan. Mereka akan dilepas ke lapangan untuk mengembangkan budidaya di wilayah masing-masing menggandeng masyarakat sekitar. Pihak kampus akan mengirim mentor ke masing-masing wilayah.

Taruna yang di daerah asalnya tidak terdapat lahan tambak akan dikirim untuk praktik ke daerah terdekat atau lahan tambak yang ada di sekitar kampus atau balai riset. Hal ini merupakan aplikasi konsep keterampilan dan adaptasi bagi taruna. Keberhasilan pembelajaran tak hanya diukur dari kemampuan mereka memahami konsep atau teori tetapi juga keberhasilan mempraktikkan langsung ilmu dan mengadaptasi teknologi dalam kegiatan usaha budidaya.

Jangan bayangkan taruna hanya mengarahkan, memerintah, dan menyaksikan. Mereka adalah pelaku utama, mentor, dan fasilitator yang melebur dalam usaha budidaya. Sudah pasti akan turun ke tambak dengan cangkulnya. Konsep field study ini akan dilakoni taruna selama dua siklus panen (6 bulan) hingga mereka memiliki keterampilan memadai. Kelulusan mereka ditentukan dengan keberhasilan perhitungan analisis ekonomi usaha yang dijalankan.

Pendidikan dipandang sebagai sebuah investasi dengan waktu yang tak singkat. Untuk produktif dan menjadi bagian aset nasional setidaknya membutuhkan waktu 10 tahun. Namun dengan konsep pembelajaran teori yang dipadukan dengan field study ini, dalam waktu 2 tahun taruna sudah terlibat aktif dalam sistem produksi pangan nasional.

Tantangan selalu ada, karena tak semua daerah memiliki karakteristik geografis yang ideal untuk pengembangan tambak udang intensif terintegrasi silvofisheries. Masalah yang tak kalah berat yaitu mengubah pola pikir masyarakat, karena tak semuanya mau diajak berbudidaya. Selain itu tak semua daerah memiliki akses transportasi dan komunikasi yang memadai.

Jumlah tenaga pendidik pun cukup terbatas untuk mendampingi praktik seluruh peserta didik yang tersebar. Kami optimistis apapun tantangannya pasti dapat ditaklukkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementerian kelautan dan perikanan kelautan dan perikanan Opini bisnis
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top