Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Relaksasi PSBB, Pebisnis Toserba: Dampaknya Tidak Signifikan

Pebisnis toserba menilai relaksasi PSBB tidak memberikan dampak signifikan seiring daya beli masyarakat yang masih rendah dan masih takut untuk keluar rumah.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 09 Agustus 2020  |  17:22 WIB
Konsumen memilih makanan dan bahan makanan di salah satu supermarket di Jakarta, Kamis (7/5 - 2020). BISNIS.COM
Konsumen memilih makanan dan bahan makanan di salah satu supermarket di Jakarta, Kamis (7/5 - 2020). BISNIS.COM

Bisnis.com, JAKARTA - Relaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidak terlalu memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha ritel modern segmen toserba seiring dengan daya beli masyarakat yang masih rendah.

Consumer Behaviour Expert & Executive Director Retail Service Nielsen Indonesia Yongky Susilo meyakini konsumen utama segmen toserba, yang pada umumnya berasal dari masyarakat kelas menengah ke atas, belum percaya diri untuk keluar rumah dan berbelanja karena pandemi.

"Ketika PSBB dibuka, sudah pasti konsumen keluar [rumah] dan belanja. Tapi jumlahnya masih terbatas. Selain itu, segmen masyarakat menengah ke atas yang punya daya beli justru yang paling takut," ujar Yongky kepada Bisnis.com, baru-baru ini.

Yongky menambahkan, masyarakat segmen menengah ke atas juga tidak terlalu gencar membelanjakan uang di platform dagang-el, sehingga daya beli masyarakat kemungkinan besar belum akan terdongkrak pada semester II/2020.

Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI) sekaligus Direktur Eksekutif Next Policy Fithra Faisal Hastiadi mengatakan peritel masih memerlukan stimulus dari pemerintah, baik yang mendukung dari sisi suplai maupun permintaan.

"Hal yang menjadi keluhan para peritel adalah belum maksimalnya kapasitas yang dimiliki saat ini. Terutama karena harus membayar ongkos karyawan serta biaya utilitas agar mampu bertahan. Jadi, stimulus dari pemerintah masih diperlukan, baik yang mendukung dari sisi suplai maupun permintaan," kata Fithra kepada Bisnis.

Didorongnya sejumlah upaya oleh pemerintah melalui program PEN pun dianggap menjadi momentum positif yang harus segera dimaksimalkan oleh pelaku usaha ritel di segmen toserba agar stimulus yang disalurkan dapat berfungsi secara optimal pada paruh kedua 2020.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan penjualan sektor ritel modern di segmen toserba pada semester II/2020 berpeluang kembali menggeliat.

Dengan catatan, tidak adanya gelombang kedua, kian longgarnya penerapan PSBB, penyaluran stimulus yang makin efektif, serta meningkatnya optimisme akan diproduksinya vaksin Covid-19 merupakan sejumlah faktor yang menentukan.

Mengacu kepada faktor-faktor tersebut, Roy berharap pertumbuhan penjualan ritel di segmen toserba setidaknya dapat bertumbuh di kisaran 1,5-2 persen pada semester II/2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perdagangan ritel
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top