Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sektor Angkutan Udara Terkontraksi, Ini Respons INACA

INACA menilai sektor angkutan udara yang terkontraksi hingga 80 persen pada kuartal II/2020 merupakan akibat dari pandemi Covid-19 yang tidak terprediksi sebelumnya.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 05 Agustus 2020  |  18:30 WIB
Sejumlah penumpang melakukan check-in di Terminal IA Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (17/3/2020). PT Angkasa Pura II (Persero) memprediksi jumlah penumpang pada kuartal I/2020 bisa berkurang sebesar 218.000 orang atau sekitar 1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu akibat wabah virus corona (COVID-19) yang menyebabkan aktivitas penerbangan domestik dan internasional berkurang. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Sejumlah penumpang melakukan check-in di Terminal IA Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (17/3/2020). PT Angkasa Pura II (Persero) memprediksi jumlah penumpang pada kuartal I/2020 bisa berkurang sebesar 218.000 orang atau sekitar 1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu akibat wabah virus corona (COVID-19) yang menyebabkan aktivitas penerbangan domestik dan internasional berkurang. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia National Air Carriers International (INACA) menilai terkontraksinya Produk Domestik Bruto (PDB) secara signifikan hingga lebih dari 80 persen di sektor angkutan udara sebagai dampak Covid-19 yang tak terprediksikan sebelumnya.

Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto mengatakan kondisi tersebut tercermin dari kontraksi pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto kuartal I/2020 yang mengalami minus 5,3 persen. Kondisi tersebut sebagai imbas penurunan sebagian besar aktivitas ekonomi baik di sektor informal maupun formal.

Bayu melanjutkan sejak periode April-Juni 2020 juga mengalami penurunan drastis dengan terhentinya operasional sejumlah maskapai serta upaya pembatasan penerbangan sebelumnya. Dilanjutkan dengan pelarangan mudik ketika Idulfitri hingga mayoritas karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta cuti di luar tanggungan atau unpaid leave. Belum lagi upaya harus mematuhi protokol kesehatan, maka sebagian masyarakat tidak bepergian adanya pembatasan penerbangan.

“Jadi untuk sektor transportasi udara tidak ada yang bisa memprediksikan kalau ada Covid-19 hingga dampak kontraksinya pada kuartal II/2020 yang minus hingga 90 persen. Menurut kami, karena ini krisis kesehatan ya harus menunggu hingga ditemukannya vaksin serta distribusinya yang masif. Kalau pertumbuhan PDB positif tentunya sektor transportasi udara juga akan poisitf,” ujarnya, Rabu (5/8/2020).

Sebagai informasi, berdasarkan lapangan usaha, sektor yang tercatat mengalami penurunan paling dalam adalah sektor transportasi pergudangan, yaitu turun hingga 30,84 persen secara tahunan (y-o-y). Data BPS mencatat sektor yang turun paling besar adalah angkutan udara, yang terkontraksi sebesar 80,23 persen.

Sebelumnya, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan transportasi terdampak luar biasa karena imbauan untuk bekerja dan belajar dari rumah untuk memutus rantai penularan Covid-19 dan tidak adanya mudik pada liburan Idulfitri tahun ini.

Meski demikian, sejalan dengan adanya relaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB), beberapa indikator, salah satunya transportasi sudah mulai mengalami perbaikan, yang tercermin dari peningkatan transportasi udara internasional dan domestik pada Juni 2020.

Transportasi udara internasional dari Mei ke Juni tercatat sudah naik 54,7 persen, sementara transportasi udara domestik naik 791,38 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

"Selama Juni setelah adanya relaksasi PSBB sudah ada denyut ekonomi. Kami semua berharap triwulan III/2020 geliat ekonomi akan bagus dan pertumbuhan ekonomi akan bagus," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

transportasi maskapai penerbangan inaca
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top