Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ganjil Genap Diberlakukan, Wajib Integrasi Transportasi Publik

Ganjil genap yang diberlakukan kembali di DKI Jakarta berdampak pada kepadatan KRL, MTI mengusulkan adanya integrasi transportasi publik dengan tiga bentuk.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 03 Agustus 2020  |  17:48 WIB
Polisi menilang pengendara yang melanggar Kawasan pembatasan Kendaraan ganjil genap di Jl Kartini Jaksel. - Twitter @tmcpoldametro
Polisi menilang pengendara yang melanggar Kawasan pembatasan Kendaraan ganjil genap di Jl Kartini Jaksel. - Twitter @tmcpoldametro

Bisnis.com, JAKARTA - Penerapan sistem ganjil genap di DKI Jakarta bisa berdampak terhadap kepadatan kereta rel listrik (KRL), keduanya dapat diantisipasi dengan menyiapkan transportasi umum terintegrasi yang higienis dan tarif terjangkau.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno mengatakan guna memenuhi mobilitas warga dan target Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ), perlu diciptakan tiga bentuk layanan transportasi umum.

"Pertama, KRL lebih diprioritaskan kelompok berpenghasilan UMK dan milenial muda berpendapatan kurang dari Rp10 juta per bulan. Kemudian ada layanan Bus Jabodetabek Residential Connexion yang melayani semua kawasan perumahan dengan tarif subsidi dan tanpa subsidi," jelasnya, Senin (3/8/2020).

Kedua, layanan Bus Jabodetabek Residential Connexion bersubsidi dapat diberikan bagi kawasan perumahan kelas menengah dengan tarif kisaran (Rp10.000- Rp15.000). Ketiga, layanan Bus Jabodetabek Residential Connexion tanpa subsidi diberikan pada perumahan kelas menengah ke atas dengan tarif kisaran Rp20.000-Rp25.000.

Operasional KRL di akhir pekan dan hari libur tidak perlu mendapat subsidi (dihapuskan). Anggaran subsidinya dialihkan ke sebagian operasional JR Connexion. Sementara itu, pengoperasian layanan JR Connexion merupakan bagian dari program BPTJ dalam meningkatkan moda share angkutan umum massal sebagaimana tertuang dalam Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ).

Sesuai target RITJ, salah satu Indikator Kinerja Utama BPTJ adalah pencapaian moda share angkutan umum massal sebesar 60 persen pada 2029.

Guna mencapai target tersebut, layanan Bus Jabodetabek JR Connexion dengan rute point to point menjadi salah satu bentuk inovasi untuk melayani penumpang dari kantong-kantong demand seperti permukiman menuju pusat perkotaan.

"Alangkah lebih bermakna jika layanan Bus JR Connexion dilengkapi dengan fasilitas tempat sepeda di dalam bus. Dari rumah menggunakan sepeda menuju halte bus. Sepeda dinaikkan ke dalam bus. Setiba di tujuan, sepeda diturunkan dan kembali dikayuh menuju tempat bekerja," paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

transportasi ganjil genap
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top