Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Suyoto Rais

Suyoto Rais

Ketua Umum Indonesia-Japan Business Network
email Lihat artikel saya lainnya

Kolaborasi Menembus Pasar Ekspor Jepang

Kunci keberhasilan membidik pasar Jepang adalah kolaborasi yang saling menguntungkan. Kolaborasi dengan pemilik pasar, teknologi, modal, lahan dan lainnya. Baik dengan dengan sesama pihak Indonesia maupun dengan para pihak di Jepang.
Bisnis.com - 03 Agustus 2020  |  11:50 WIB
Bendera Jepang dan Indonesia
Bendera Jepang dan Indonesia

Jepang masih menjadi primadona tujuan ekspor negara-negara produsen. Nilai impor Jepang pada 2018 mencapai 83 triliun yen (lebih dari Rp11.000 triliun). Komoditas makanan dan minuman memiliki porsi tertinggi yaitu 11%, disusul minyak mentah, gas alam cair, produk aparel, batu bara dan bahan baku serta komponen industri lainnya.

Makanan dan minuman yang dikonsumsi di Jepang sebagian besar sebenarnya bisa diproduksi di Indonesia. Namun harus diakui dalam banyak hal, para pesaing kita lebih agresif dan memiliki daya tarik melebihi kita. Diperlukan kolaborasi dan kerja keras untuk membidik pasar Jepang.

Ikan tuna misalnya. Menurut FAO (2017), Indonesia adalah produsen tuna terbesar di dunia, yaitu sekitar 375.000 ton per tahun. Jepang, produsen nomor dua di dunia, tidak sampai separuhnya dan setiap tahunnya perlu impor sekitar 200.000 ton. Saat ini kita hanya bisa ekspor ke Jepang sebanyak 6.000 ton per tahun. Angka itu kecil sekali dibandingkan dengan Taiwan (68.000 ton), China (33.000 ton), dan Korea Selatan (19.000 ton).

Konon masih kecilnya volume ekspor tuna tersebut karena perlakuan pascatangkap Indonesia belum bisa memenuhi standar Jepang. Bisa jadi juga karena adanya kebijakan pemerintah yang kadang membingungkan dan biaya logistik yang kurang mendukung.

Sidat juga demikian. Saat kebutuhan meningkat, Jepang kekurangan lebih dari 100.000 ton per tahun. Jenis sidat Jepang (Japonica) sudah hampir punah dan saat ini yang paling banyak dicari adalah jenis bicolor yang nenernya banyak ditangkap para nelayan di pantai selatan Pulau Jawa dan pantai barat Sumatera. Boleh dibilang untuk jenis bicolor, Indonesia adalah produsen terbesarnya.

Namun ekspor sidat Indonesia ke Jepang hanya beberapa ratus ton per tahun. Impor sidat Jepang masih didominasi oleh Taiwan dan China. Mereka telah memiliki metoda budidaya dan pengolahan yang bisa diterima pasar negeri Matahari Terbit.

Berbagai produk agro dan hortikultura juga demikian. Potensi besar di Jepang tetapi kita masih sering dipecundangi negara-negara tetangga. Bunga krisan misalnya. Kebutuhan Jepang stabil dan hampir semua diimpor. Pada 2017 negara itu mengimpor 20 juta ton dan sekitar 60% ternyata dari Malaysia dan lainnya dari China, Vietnam, dan Kamboja. Indonesia pernah ekspor krisan tetapi tak bertahan lama, karena konon bunga krisan dari Indonesia hanya 10% yang bisa dijual di Jepang.

Selebihnya layu atau berubah warna setelah sampai di negara tujuan. Ada standar budidaya dan penanganan pascapetik yang nampaknya belum kita kuasai.

Vanili yang harganya beberapa juta setiap kilogram ternyata juga punya pasar lumayan. Tahun lalu Jepang mengimpor sebanyak 3,1 miliar yen dan 96% berasal dari Madagaskar yang jaraknya dua kali lebih jauh dibandingkan dengan dari Indonesia. Padahal kita memiliki banyak daerah penghasil vanili dengan mutu kelas satu sekalipun.

Buah segar lebih memprihatinkan lagi. Yang bisa masuk ke Jepang dari Indonesia saat ini nanas, pisang, dan durian. Dua komoditas pertama, hampir 90% dikuasai Filipina. Adapun yang terakhir dikuasai Thailand. Mangga, manggis, melon, semangka, pepaya dan lain-lain buah segar dari Indonesia belum bisa masuk ke Jepang, karena belum ada kesepakatan antar kedua pemerintah.

Jepang mensyaratkan para eksportir menggunakan mesin vapor heat treatment (VHT) untuk menghilangkan lalat buah. Sebaliknya Indonesia merasa sudah cukup hanya dengan memakai hot water treatment.

Selain makanan dan minuman, berbagai produk energi terbarukan juga memiliki potensi pasar besar di Jepang. Awal Juli lalu, METI (Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang) mengumumkan bahwa hingga 2030 akan menonaktifkan 100 unit pembangkit listrik tua berbahan bakar batu bara dari 140 unit yang dimilikinya. Selanjutnya diganti pembangkit baru dengan bahan bakar biomassa. Untuk setiap unit pembangkit, yang terkecil saja memerlukan beberapa puluh ribu ton biomassa per bulan.

Alhasil komoditas ini akan memiliki pasar yang sangat besar di Jepang. Kita memiliki bahan baku berlimpah. Tinggal mencari teknologi yang bisa memenuhi spesifikasi mereka, karena bila salah olah dapat membuat mesin-mesin boiler rusak.

Menurut hemat saya, kunci keberhasilan membidik pasar Jepang adalah kolaborasi yang saling menguntungkan. Kolaborasi dengan pemilik pasar, teknologi, modal, lahan dan lainnya. Baik dengan dengan sesama pihak Indonesia maupun dengan para pihak di Jepang.

Salah satu daerah yang terlihat antusias untuk merintis kolaborasi dengan Jepang ini adalah Sulawesi Utara yang memiliki wilayah paling dekat dengan negeri Matahari Terbit. Saat saya dan beberapa pengurus IJB-Net diajak mendiskusikan bentuk kolaborasi ini, terlihat sekali Gubernur, Sekretaris Daerah, seluruh organisasi perangkat daerah, para pengusaha dan tokoh-tokoh masyarakat setempat sangat bersemangat.

Pihak Jepang yang mengetahui kondisi Sulawesi Utara juga menyambut baik. Mereka yakin bila dikembangkan dengan baik, Manado dan sekitarnya bisa menjadi ‘pesaing’ Singapur dan ‘Bali kedua’ Indonesia. Lokasinya yang strategis dan sumber daya alam di sekelilingnya sangat mendukung.

Ada beberapa program kolaborasi yang akan segera dilakukan. Pengembangan dan promosi produk unggulan, pengembangan wilayah dan juga program kerja sama lainnya, termasuk mencari sister province atau sister city di negara calon mitra tersebut. Selain itu mempercepat eksekusi direct flight dan direct export dari Sulawesi Utara ke Jepang atau sebaliknya. Dan sekali lagi semua upaya itu memerlukan kolaborasi dan sinergi yang baik dari semua pihak terkait di Indonesia dan Jepang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang ekspor
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top