Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Negara Mitra Kena Resesi, Hilirisasi Harus Dipacu

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan Roeslani menyampaikan 6 dari 10 negara mitra dagang utama Indonesia akan mengalami resesi pada 2020.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 28 Juli 2020  |  14:49 WIB
(kiri-kanan) Pengacara Hotman Paris Hutapea bersama Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani mengadakan diskusi publik soal Omnibus Law Cipta Kerja di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Sabtu 14 Maret 2020. -  Tempo / EKO WAHYUDI.
(kiri-kanan) Pengacara Hotman Paris Hutapea bersama Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani mengadakan diskusi publik soal Omnibus Law Cipta Kerja di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Sabtu 14 Maret 2020. - Tempo / EKO WAHYUDI.

Bisnis.com, JAKARTA – Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan Roeslani menyebut resesi yang dialami oleh sejumlah negara mitra Indonesia menjadi tantangan tersendiri di tengah pandemi Covid-19.

Sebut saja pertumbuhan ekonomi China yang hanya mampu tumbuh 3,2 persen pada kuartal kedua tahun ini, setelah terkontraksi hingga 6,8 persen pada kuartal I/2020. Lainnya ada Singapura, Jepang, dan Malaysia.

Rosan menyampaikan 6 dari 10 negara mitra dagang utama Indonesia akan mengalami resesi pada 2020. Adapun, 4 negara mitra yang akan tetap mencatatkan petumbuhan ekonomi adalah China, India, Filipina, dan Vietnam.

"Resesi di mitra dagang akan mengubah peta perdagangan ekspor-impor Indonesia. Tentu ini akan berdampak pada perdagangan kita,” katanya dalam Mid-Year Economic Outlook 2020, Selasa (28/7/2020).

Dia pun mengemukakan, mengutip data World Trade Organization (WTO), ada penurunan atau perubahan nilai perdagangan Indonesia dengan sejumlah mitra terbesar.

“Berdasarkan WTO [nilai perdagangan] turun 13 persen sampai 23 persen perdagangan akan mengalami tantangan yang besar karena 6 dari 10 mitra utama mengalami resesi. Penurunan terbesar dengan India sampai 22 persen,” jelasnya.

Untuk itu, dia menilai pemerintah harus bergegas mempercepat upaya pengembangan hilirisasi untuk meminimalisir ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku.

“Perlu dilakukan value added ada di situ dan dampak ekspornya signifikan,” tekannya.

Menurutnya, hilirisasi bisa mendukung rantai pasokan dan ptimalisasi subtitusi impor perlu didorong untuk meningkatkan penerimaan devisa.

Hingga saat ini, Indonesia memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan 16 negara atau kawasan.

“Terakhir dengan Australia yang berjalan 5 Juli. Kami harap bisa mendorong perdagangan. Perdagangan CPO [crude palm oil] dengan Turki kalah dengan Malaysia karena mereka sudah memiliki FTA dengan Malaysia,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

resesi ekspor impor covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top