Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jokowi Sebut Ekonomi Kuartal II Bisa Minus 5 Persen

Presiden Jokowi memproyeksi perekonomian Indonesia pada kuartal kedua tahun ini minus 4,3 persen hingga 5 persen.
Aprianus Doni Tolok
Aprianus Doni Tolok - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  11:41 WIB
Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers terkait COVID-19 di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (16/3/2020). Presiden Joko Widodo meminta kepada kepala pemerintah daerah untuk berkomunikasi kepada pemerintah pusat seperti Satgas COVID-19 dan Kementerian dalam membuat kebijakan besar terkait penanganan COVID-19, dan ditegaskan kebijakan
Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers terkait COVID-19 di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (16/3/2020). Presiden Joko Widodo meminta kepada kepala pemerintah daerah untuk berkomunikasi kepada pemerintah pusat seperti Satgas COVID-19 dan Kementerian dalam membuat kebijakan besar terkait penanganan COVID-19, dan ditegaskan kebijakan "lockdown" tidak boleh dilakukan pemerintah daerah. ANTARA FOTO - Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo mengakui bahwa kondisi perekonomian Indonesia mengalami pukulan yang cukup berat akibat pandemi Covid-19.

Presiden menuturkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama masih bisa tumbuh 2,97 persen. Namun, di kuartal kedua tahun ini, pertumbuhannya akan jatuh minus.

“Di kuartal kedua kita akan jatuh minus. Kita harus ngomong apa adanya, bisa minus 4,3 persen sampai 5 persen,” kata Jokowi dalam ratas mengenai Penyaluran Dana Bergulir untuk Koperasi Dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Nasional di Istana Negara, Jakarta, Kamis (23/7/2020).

Lebih lanjut, Jokowi menyatakan bahwa kondisi tersebut tidak hanya dialami oleh Indonesia saja, melainkan juga oleh hampir seluruh negara di dunia. 

“Kita tahu semuanya keadaan sekarang adalah keadaan yang tidak mudah, keadaan yang sangat sulit. Bagaimana mengendalikan Covid-19 dan ekonomi supaya berjalan beriringan itu bukan hal yang mudah,” ujarnya. 

Jokowi mengaku telah menghubungi Managing Director IMF Kristalina Georgieva sekitar tiga bulan yang lalu dan mendapat informasi bahwa perekonomian dunia pada tahun ini pertumbuhannya diproyeksi minus 2,5 persen.

“Kemudian, dua bulan yang lalu saya telepon Bank Dunia, beda lagi jawabannya. Bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan minus lima persen,” ucap Jokowi. 

Kemudian, dua minggu yang lalu, Jokowi juga mengaku telah menghubungi OECD, dan menerima jawaban bahwa pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan minus 6 persen sampai 7,6 persen.

“Gambaran apa yang ingin saya sampaikan bahwa setiap bulan selalu berubah, sangat dinamis. Posisinya tidak semakin mudah, tapi semakin sulit, gambaran kesulitannya seperti itu,” jelasnya.

Berdasarkan laporan OECD, imbuh Jokowi, beberapa negara pertumbuhan ekonominya diproyeksi akan minus. Prancis minus 17 persen, Inggris minus 15 persen, Jerman minus 11 persen, Jepang minus 8,3 persen, dan Malaysia minus 8 persen.

“Bayangkan, isinya hanya minus-minus, dan minusnya dalam posisi yang gede-gede seperti itu,” ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi pertumbuhan ekonomi indonesia covid-19 pemulihan ekonomi
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top