Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Utilitas Industri Hilir Aluminium Membaik, Ketidakpastian Membayangi

APRALEX Sh&F mendata saat ini rata-rata utilitas pabrikan aluminium sheet berada di kisaran 40-50 persen.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 21 Juli 2020  |  20:17 WIB
Ilustrasi industri alumunium. - Bisnis.com
Ilustrasi industri alumunium. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Produsen Aluminium Extrusi Serta Aluminium Plate, Sheet & Foil (APRALEX Sh&F) mendata utilitas industri hilir aluminium saat sedikit membaik. Tetapi, asosiasi belum bisa meramalkan utilitas pabrikan pada akhir 2020.

Ketua Umum APRALEX Sh&F Abubakar Subiantoro mengatakan hanya pabrikan berorientasi ekspor dan industri aluminium foil yang memiliki utilitas cukup baik. Sebaliknya, utilitas industri hilir aluminium lainnya belum dapat menembus level 60 persen pada akhir semester I/2020.

"Selama pemerintah belum dapat memacu ekonomi, tentu industri repot juga. Semoga [pandemi] Covid-19 cepat pergi," katanya kepada Bisnis, Selasa (21/7/2020).

APRALEX Sh&F mendata saat ini rata-rata utilitas pabrikan aluminium sheet berada di kisaran 40-50 persen. Sementara itu, utilitas industri ekstrusi aluminium berada di kisaran 50 persen, kecuali pabrikan ekstrusi aluminium berorientasi ekspor.

Adapun, pabrikan ekstrusi aluminium memiliki rata-rata utilitas di level 70 persen. Abbubakar berujar industriwan ekstrusi aluminium menargetkan utilitas pabrikan ekstrusi aluminium akan tumbuh pada medio kuartal III/2020.

Abubakar menyatakan rendahnya permintaan aluminium nasional membuat parikan melakukan beberapa hal seperti mengurangi jam kerja, menghemat biaya produksi, maupun kombinasi keduanya. Dengan kata lain, Abubakar menyatakan strategi yang akan diterapkan industri hilir aluminium pada paruh kedua 2020 adalah penghematan untuk bertahan hidup.

Menurutnya, jika utilitas nasional turun ke bawah level 40 persen, pabrikan akan merumahkan sekitar 60-70 persen dari total tenaga kerjanya.

Di sisi lain, Abubakar menilai pabrikan aluminium hilir belum akan berkontribusi pada peningkatan pendapatan pemerintah dari penurunan tarif gas dari US$10/mmBTU ke level US$6/mmBTU. Pasalnya, permintaan produk aluminium hilir pun anjlok.

Oleh karena itu, Abubakar meminta agar pemerintah memberikan guideline produksi sektor manufaktur terkait penyesuaian pertumbuhan ekonomi nasional. Dia menilai hal tersebut penting lantaran pandemi Covid-19 terjadi di seluruh dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alumunium industri manufaktur
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top