Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Genjot Budidaya, Edhy Prabowo Jamin Tidak Ada Pembabatan Mangrove

Menteri Kelautan dan Perikann Edhy Prabowo menegaskan tidak ada lagi pembabatan hutan mangrove karena saat ini sudah ada inovasi cara budidaya, di mana penerapannya tidak membutuhkan lahan yang begitu luas.
Thomas Mola
Thomas Mola - Bisnis.com 15 Juli 2020  |  22:59 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/7/2020). ANTARA FOTO - Akbar Nugroho Gumay
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/7/2020). ANTARA FOTO - Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan tidak ada lagi pembabatan hutan mangrove untuk alih fungsi menjadi kawasan tambak budidaya. Inovasi budidaya melalui intensifikasi akan didorong sehingga tidak terjadi alih fungsi hutan mangrove.

Menteri KKP Edhy Prabowo mengatakan bahwa kementerian berkomitmen untuk menjaga kelestarian alam meski di sisi lain sedang gencar mengembangkan sektor perikanan budidaya, khususnya komoditas udang.

"Pasti akan ada isu lingkungan karena kami sedang gencar mengembangkan budidaya. Tapi saya jamin, ke depan tidak ada lagi pembabatan hutan mangrove, justru kami akan menanami mangrove," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (15/7/2020).

Edhy menegaskan keyakinan tidak ada lagi pembabatan hutan mangrove karena saat ini sudah ada inovasi cara budidaya, dimana penerapannya tidak membutuhkan lahan yang begitu luas tetapi hasil panennya melimpah.

Dia menyebutkan, tambak udang vaname dengan sistem intensifikasi sudah banyak di Indonesia. Gambaran hasil produksinya, 1 hektare (ha) tambak udang vaname bisa menghasilkan hingga 10 hingga 15 ton setiap kali panen. Sistem intensifikasi ini, klaimnya, lebih produktif dibanding tambak yang pengerjaannya secara tradisional.

"Kalau dulu itu 10 ha lahan dapatnya hanya 1 ton. Tapi sekarang 1 ha lahan bisa menghasilkan 10 sampai 15 ton udang. Dan ini sudah terbukti di banyak tempat di Indonesia," paparnya.

Edhy menerangkan selain menggunakan sistem intensifikasi KKP akan menerapkan konsep silvofishery. Melalui konsep ini, area-area bekas tambak akan kembali ditanami mangrove sembari dimanfaatkan untuk budidaya biota laut lainnya, seperti ikan kerapu, udang windu, dan kakap putih.

Dia tidak menampik sektor perikanan budidaya, khususnya komoditas udang belum tergarap maksimal. Hal itu menjadi salah satu amanat Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan hasil budidaya.

Hal itu guna menjawab kebutuhan pasar dalam negeri maupun luar negeri. Untuk pasar internasional, dia menyebutkan, kebutuhannya masih tinggi dan menjanjikan. Sekadar catatan, produksi udang nasional baru sekitar 800.000 hingga 1 juta ton per tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tambak udang kkp
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top