Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Prompt Manufacturing Index BI Turun, Ini Masukan Buat Pemerintah

Kinerja sektor manufaktur diperkirakan melanjutkan fase kontraksi yang lebih dalam pada kuartal II/2020. Untuk menggairahkan kembali industri, kalangan pengusaha menyampaikan sejumlah masukan kepada pemerintah.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 14 Juli 2020  |  19:00 WIB
Suasana di salah satu pabrik perakitan motor di Jakarta, Rabu (1/8/2018). Bisnis - Abdullah Azzam
Suasana di salah satu pabrik perakitan motor di Jakarta, Rabu (1/8/2018). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja sektor manufaktur diperkirakan melanjutkan fase kontraksi yang lebih dalam pada kuartal II/2020. Untuk menggairahkan kembali industri, kalangan pengusaha menyampaikan sejumlah masukan kepada pemerintah.

Suntikan modal baru bagi pengusaha dan percepatan realisasi dana bantuan aosial (Bansos) ke masyarakat menjadi kunci bagi pihak industriwan untuk mempertahankan keberlangsungan usaha di sepanjang semester II/2020.

Kedua hal dilakukan untuk menopang kestabilan ritme sektor manufaktur, baik dari segi rantai pasok maupun permintaan pasar, yang tertekan sejak pandemi virus corona (Covid-19) melanda Indonesia pada Maret 2020 lalu.

Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI), Prompt Manufacturing Index (PMI) yang turun dari 45,64% pada kuartal I/2020 menjadi 28,55% pada kuartal II/2020. Kinerja sektor manufaktur pun diperkirakan berada dalam fase kontraksi yang lebih dalam pada kuartal II/2020.

Becermin pada kuartal sebelumnya, kinerja sektor manufaktur pun masih berada di fase kontraksi meski diprakirakan membaik pada kuartal III/2020. Pada kuartal III/2020, kegiatan usaha sektor manufaktur diprakirakan membaik meski masih terbatas dengan saldo bersih tertimbang (SBT) sebesar -0,73%.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani mengatakan pihak pelaku usaha tidak dapat melakukan kontrol terhadap kondisi permintaan pasar.

Menurutnya, permintaan pasar bergantung kepada pemerintah serta negara-negara dan perusahaan-perusahaan luar negeri yang merupakan konsumen produk dalam negeri.

"Pihak pelaku usaha tidak dapat mengontrol sektor permintaan, melainkan mengandalkan suplai sebagai kunci utama dalam menunjang keberlangsungan usaha di masa pandemi Covid-19. Dari sisi suplai, saat ini diperlukan insentif berupa pajak, biaya pemakaian energi listrik, dan modal baru untuk pemulihan perekonomian." ujar Shinta kepada Bisnis, Selasa (14/7/2020).

Hal tersebut, jelasnya, tidak terlepas dari naiknya biaya impor bahan baku yang menurutnya naik secara signifikan selama masa pandemi. Terutama, bahan baku sektor farmasi yang disebut Shinta mengalami kenaikan hingga 300% selama masa pandemi.

Pasalnya, peranan efisiensi biaya rantai pasokan dipegang oleh pihak pelaku usaha yang mana saat ini biaya impor bahan baku dikatakan naik 70%. Bahkan, impor bahan baku sektor farmasi naik 300% sejak pandemi berlangsung.

Lebih jauh dia menjelaskan, pelaku usaha sektor manufaktur juga terbebani oleh biaya yang perlu dikeluarkan untuk memenuhi protokol kesehatan pemerintah dan berdampak terhadap biaya suplai perusahaan.

"Sebenarnya kami sudah menanyakan kepada pemerintah apakah biaya Rapid Test bisa dibantu juga. Terutama untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang lebih sulit untuk memenuhi protokol kesehatan," sambungnya.

Becermin dari kondisi tersebut, Kadin memprediksi neraca dagang akan mengalami fase paling parah pada semester II/2020 dengan defisit mencpai -4% hingga -6%.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

insentif pajak kinerja manufaktur kamar dagang dan industri indonesia Normal Baru
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top