Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BI dan API Berbeda Pendapat Soal Perbaikan Industri TPT

Masalah utama yang dihadapi industri TPT saat ini adalah daya beli masyarakat yang rendah.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 13 Juli 2020  |  17:46 WIB
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen saat kunjungan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Jakarta, Rabu (1/7/2020). Kunjungan Menaker tersebut guna memastikan pekerja perempuan pada sektor industri tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif serta untuk mengecek fasilitas laktasi dan perlindungan kesehatan bagi pekerja terutama saat pandemi Covid-19. ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen saat kunjungan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Jakarta, Rabu (1/7/2020). Kunjungan Menaker tersebut guna memastikan pekerja perempuan pada sektor industri tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif serta untuk mengecek fasilitas laktasi dan perlindungan kesehatan bagi pekerja terutama saat pandemi Covid-19. ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia mendata Prompt Manufacturing Index sektor tekstil, barang kulit, dan alas kaki berada di posisi 19,1 pada kuartal II/2020.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menilai angka tersebut belum akan membaik secara signifikan dalam waktu dekat.

BI memperkirakan Prompt Manufacturing Index (PMI) sektor tekstil, barang kulit, dan alas kaki akan membaik ke level 42,54 pada kuartal III/2020. Hal tersebut bertolak belakang dengan API yang meramalkan bahwa kondisi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) baru akan membaik secepatnya tahun depan.

"Saya [sudah] tanya ke semua pelaku usaha [TPT], untuk [kondisi pabrikan TPT] bisa kembali normal atau minimal mendekati normal butuh waktu 1—1,5 tahun. Recovery-nya tidak mudah," ujar Sekretaris Jenderal API Rizal Rakhman kepada Bisnis, Senin (13/7/2020).

Dengan kata lain, katanya, utilitas industri TPT baru akan kembali seperti kondisi sebelum pandemi secepatnya pada Mei 2021. Oleh karena itu, Rizal ragu industri TPT nasional dapat mencatatkan pertumbuhan volume maupun nilai produksi pada akhir 2020.

Dia menyampaikan bahwa Kementerian Perindustrian telah memprognosis pertumbuhan industri garmen pada akan terkontraksi sekitar 6 persen—8 persen secara tahunan.

Menurutnya, masalah utama yang dihadapi industri TPT saat ini adalah daya beli masyarakat yang rendah. Pelonggaran protokol pembatasan sosial berskala besar (PSBB) telah memberi stimulus pada pabrikan untuk kembali beraktivitas.

Pasalnya, pelonggaran PSBB tersebut membuat distributor bahan baku bagi industri antara maupun hilir TPT kembali terbuka. Akan tetapi, pergerakan pabrikan tersebut tidak diikuti oleh perbaikan serapan produk TPT oleh konsumen.

"Ujungnya, bagaimana pemerintah mendorong daya beli masyarakat [saat ini]. Itu yang penting," ucapnya.

Di sisi lain, Rizal menyatakan bahwa API saat ini masih dalam tahap persiapan administrasi terkait pengajuan penambahan bea masuk produk garmen.

Pengajuan penambahan bea masuk tersebut merupakan tindak lanjut dari penetapan penambahan bea masuk definitif produk kain pada semester I/2020.

Dia berharap supaya pemerintah dapat menambahkan bea masuk bagi produk garmen impor secepatnya pada kuartal III/2020. Dengan demikian, lanjutnya, akan ada pertumbuhan di industri TPT nasional dengan meningkatnya serapan garmen lokal di pasar domestik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tekstil Industri Tekstil
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top