Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cerita di Balik Hazmat

Selama rentang waktu dinas 12 jam, sebelum Covid-19, rata-rata petugas medis hanya berdinas 7 hingga 10 jam, APD itu hanya dikenakan beberapa jam saja ketika berinteraksi langsung dengan pasien.
Maria Yuliana Benyamin
Maria Yuliana Benyamin - Bisnis.com 10 Juli 2020  |  12:29 WIB
Maria Yuliana Benyamin -
Maria Yuliana Benyamin -

Betapa susah dan menderitanya mengenakan hazmat. Itu kesan yang saya tangkap dari cerita salah satu petugas medis rumah sakit swasta di bilangan Jakarta Pusat.

Olin, begitu dia biasa disapa, adalah satu dari ribuan petugas medis yang kini berada di garda terdepan dalam memerangi pandemi Covid-19.

Sejak akhir April lalu, Olin mulai ‘akrab’ dengan berbagai alat pelindung diri (APD), termasuk baju APD atau hazmat. Tepatnya setelah RS swasta tempatnya bekerja menerima pasien Covid-19.

Tidak setiap waktu satu set APD melekat di tubuhnya. Selama rentang waktu dinas 12 jam, sebelum Covid-19, rata-rata petugas medis hanya berdinas 7 hingga 10 jam, APD itu hanya dikenakan beberapa jam saja ketika berinteraksi langsung dengan pasien.

Dalam sekali berdinas, dia berinteraksi sebanyak dua kali dengan pasien. Itu berarti, dua kali pula dia harus berpakaian APD lengkap.

Jika pasien tak begitu banyak, dia beruntung hanya mengenakannya untuk 2 jam saja sekali pakai. Sebaliknya, jika pasien tengah ramai, APD komplet bisa menempel 5 jam di badannya.

Itu baru satu cerita di rumah sakit swasta. Tentu ceritanya berbeda dengan petugas medis yang tengah berjuang di beberapa rumah sakit rujukan pemerintah, yang pasiennya jauh lebih banyak. Mereka mungkin harus berada di balik APD komplet lebih lama.

Saya dan mungkin juga Anda bisa membayangkan bagaimana rasanya terperangkap dalam APD dengan material tertentu yang dapat ditebak sangat tidak nyaman.

“Pengap. Panas. Duh, enggak nyaman deh pokoknya. Kayak sauna...,” begitu kata Olin.

Beruntung bila baju hazmat yang dikenakan bermaterial super bagus sehingga hanya cukup satu lapis. Bagaimana dengan hazmat yang tak memenuhi standar, dan terpaksa harus dipakai berlapis-lapis?

Belum lagi kerepotan di balik hazmat itu. Untuk urusan ‘ke belakang’ pun harus diatur dan terkadang harus ditahan-tahan. Semua itu untuk tujuan melindungi diri sendiri, juga mungkin saja, berhemat APD.

Akan tetapi, demi kemanusiaan, penderitaan berjam-jam itu dan segala kerepotan di baliknya rela ditebus untuk keselamatan sesamanya yang terpapar Covid-19. Tak ada keluh kesah, meski peluh bercucuran. Mereka berjuang. Demi Kemanusiaan.

Jauh dari hawa pengap, panas, hingga peluh yang bercucuran deras di balik hazmat yang menempel di tubuh para pejuang medis, ada riuh rendah lainnya yang tak kunjung henti.

Ini bermula dari ‘teriakan’ produsen baju APD di dalam negeri. Produksi mereka kini berlimpah. Sayangnya, tidak semua produksi itu diserap untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Mungkin Anda masih ingat rencana ekspor APD ke luar negeri yang pernah terlontar dari beberapa menteri, belum lama ini.

Satu sisi, ada semacam kebanggaan bahwa Indonesia kini akhirnya dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, dan produk RI berpeluang untuk mengisi pasar ekspor.

Namun, jangan senang dulu. Ada cerita ‘ironis’ di baliknya yang jika benar tentu membuat kita semua mengelus dada. Pasalnya, kelebihan pasokan itu bisa juga terjadi karena pasar terlanjur diisi oleh produk dari negara lain alias impor.

Merunut ke belakang, RI pernah mengalami krisis APD pada awal-awal terjadinya kenaikan kasus positif Covid-19. Kondisi ini diakui langsung oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana sekaligus Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Doni Monardo ketika bertemu dengan beberapa pemimpin redaksi sejumlah media massa di kantornya 1 pekan setelah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan.

Saking krisisnya, perjuangan mendapatkan APD kala itu penuh kesan ‘heroisme’. Pemerintah sampai ‘menggagalkan’ ekspor ratusan ribu APD ke Korea Selatan.

Seyogyanya, APD yang diproduksi oleh salah satu produsen lokal itu untuk memenuhi pesanan Korsel. Akan tetapi, atas nama kemanusiaan di dalam negeri, pemerintah berhasil ‘menego’ Korsel, sehingga akhirnya hanya setengah dari total jumlah pesanan yang dikirimkan. Sisanya untuk kebutuhan domestik.

Di tengah krisis itu, sejumlah pihak pun akhirnya mengambil langkah seribu.

Seorang produsen APD yang enggan disebutkan namanya baru-baru ini bercerita perihal rapat online yang digelar awal April. Semua stakeholders hadir dalam rapat yang membicarakan secara khusus perihal APD, utamanya baju hazmat.

Kegelisahan memang muncul kala itu. Jumlah kasus positif naik terus. Di sisi lain, APD tidak tersedia dalam jumlah yang cukup. Padahal, industri domestik sebetulnya bisa produksi barang tersebut.

Dalam rapat itu, produsen lokal menyanggupi untuk memenuhi kebutuhan domestik. “Ada komitmen angka-angkanya. Intinya, ada semangat yang besar untuk menggandeng produsen lokal dalam menyelamatkan tenaga kesehatan. Tujuan lain, supaya ekonomi domestik juga bergerak,” ujar sumber itu.

Tujuan kedua itu tentu saja menjadi angin segar bagi industri dalam negeri. Setelah PSBB, aktivitas industri memang tiarap. Rata-rata dihentikan.

Pada saat yang sama, ancaman bahan baku dan penurunan daya beli pun mengadang. Tak heran, industri perlahan-lahan terhenti. Maka, bagi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dan industri alat kesehatan misalnya, produksi APD menjadi salah satu jalan keluar untuk tetap bertahan di tengah tekanan.

Sayangnya, ketika semangat memproduksi hazmat lokal tengah menggebu-gebu, komitmen dalam rapat virtual itu menguap begitu saja.

Mendadak, angka yang bisa diproduksi oleh produsen lokal berubah. Ibaratnya, jika semula keseluruhan produksi lokal yang nantinya dibagi-bagi ke produsen lokal sesuai dengan kapasitas produksinya berjumlah 10, belakangan angkanya menyusut menjadi 3. Itu berarti kue yang dibagi-bagi di antara produsen lokal menciut alias lebih kecil.

Kabarnya, beberapa produsen yang sebelumnya mengantongi angka komitmen produksi hazmat yang cukup besar, akhirnya ‘gigit jari’.

Lalu, dari mana kebutuhan domestik yang cukup besar itu dipenuhi? Coba tebak...

Masalah hazmat bukan itu saja. Sebuah cerita lain saya dengar langsung dari produsen TPT. Lagi-lagi, yang ini juga tak mau identitasnya terungkap.

Selama ini, sepengetahuan saya, produksi hazmat mengandalkan material spunbon yang berbasis poly­propilene. Jauh sebelum Covid-19 merebak, material ini yang umumnya dipakai karena paling murah.

Sebetulnya, ada material lain yang juga bisa dipakai untuk memproduksi hazmat, antara lain spunlace, polyester, dan nylon taffeta. Material ini ada di Indonesia, dan kini banyak digunakan oleh produsen lokal untuk memproduksi hazmat.

Sejak awal, Gugus Tugas telah membolehkan penggunaan berbagai material nonspunbon itu, sepanjang produk yang dihasilkan bisa digunakan lebih dari sekali pakai (reusable) dan tentunya juga harus lolos tes.

Produksi hazmat reusable menjadi fokus karena mempertimbangkan masa pandemi yang kemungkinan masih panjang dan kebutuhan APD yang terus meningkat.

Di sisi lain, hazmat impor umumnya terbuat dari spunbon. Hazmat dari bahan ini hanya bisa digunakan sekali saja (disposable). Ada juga produsen lokal yang membuat hazmat dari spunbon, tetapi kapasitasnya kecil sekali.

Rata-rata hazmat reusable yang diproduksi oleh produsen lokal bisa dipakai hingga lima kali cuci. Harga 1 unit hazmat reusable ini hanya lebih tinggi 20%—25% dari hazmat sekali pakai. Dengan demikian, produk hazmat reusable jauh lebih bersaing dari sisi harga.

“Info yang kami dapat, katanya sih, dokter tak suka pakai yang berbahan dasar nonspunbon karena kurang nyaman...” begitu cerita produsen.

Tak puas dengan info itu, mereka menguji sendiri produknya dengan mengirimkan ke rumah sakit tertentu untuk dipakai para dokter. “Mereka bilang nyaman kok. Justru katanya lebih adem.

Saya tak berniat menunjuk hidung siapapun di sini. Jejak informasi ini terus kami telusuri. Tujuannya hanya satu. Urusan APD, utamanya hazmat, tak boleh jadi barang mainan. Kemanusiaan yang melekat padanya tak boleh direndahkan.

APD menjadi pelindung mereka yang berada di garda terdepan dalam memerangi Covid-19. APD itu harus melekat dengan gagahnya di tubuh mereka, tanpa kehilangan sedikit pun makna kemanusiaan.

Jangan sampai, perjuangan demi kemanusiaan, termasuk melawan pengap, panas, dan peluh yang jatuh bercucuran ternoda oleh tangan-tangan tidak kelihatan yang kini juga tengah bertarung tanpa rasa kemanusiaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apd Virus Corona Hazmat
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top