Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Covid-19, Pesawat Jet Jumbo Turun Pamor

Pemerhati penerbangan Alvin Lie menilai pesawat jet jumbo seperti Boeing 747 dan Airbus 330 tidak bisa mengisi kapasitas secara penuh akibat aturan pembatasan penumpang.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 09 Juli 2020  |  17:15 WIB
Pilot dan kru pesawat memberi penghormatan terakhir kepada pesawat Garuda Boeing 747-400 di Hanggar 4 GMF Aero Asia, Tangerang, Banten, Senin (9/10). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Pilot dan kru pesawat memberi penghormatan terakhir kepada pesawat Garuda Boeing 747-400 di Hanggar 4 GMF Aero Asia, Tangerang, Banten, Senin (9/10). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Pesawat jet jumbo berbadan besar seperti Boeing 747 dan Airbus 330 akan mengalami penyusutan operasional selama pandemi karena maskapai tak mampu menjaring penumpang dalam jumlah banyak.

Saat ini tingkat kapasitas maskapai nasional berdasarkan SE Dirjen Perhubungan Udara No. 13/2020 tentang operasional transportasi udara dalam masa kegiatan masyarakat produktif dan aman dari Covid-19 adalah maksimal sebesar 70 persen dari kapasitas angkut atau seat load factor.

Pemerhati penerbangan yang juga anggota Ombudsman Alvin Lie menuturkan faktor efisiensi menjadi alasan maskapai untuk mengurangi operasional pesawat jet jumbo. Terlebih, lazimnya pesawat tipe tersebut lebih optimal digunakan untuk penerbangan dengan rute internasional.

“Tidak ada pilihan bagi maskapai melakukan penyusutan operasi. Pesawat berbadan besar seperti Airbus 330 dan Boeing 747 nyaris tidak bermanfaat lagi karena sangat sulit untuk mencari penumpang dalam jumlah besar,” jelasnya, Kamis (9/7/2020).

Selain itu, Alvin menilai dalam kondisi saat ini maskapai juga tidak mungkin mengembalikan pesawat yang telah disewa kepada perusahaan leasing. Perusahaan leasing, sebutnya tidak akan menerima pengembalian pesawat karena kondisi saat ini di seluruh dunia masih banyak pesawat yang menganggur.

Maskapai pun tetap harus menyewanya. Alhasil opsi terbesar bagi maskapai adalah meminta perusahaan leasing untuk memberikan tarif diskon.

Alvin menjelaskan pukulan berat menghantam maskapai yang selama ini mengandalkan rute internasional. Pasalnya dia memperkirakan hingga 2021 penerbangan lintas negara akan semakin ketat dan nyaris tak ada penumpang kecuali untuk penerbangan repatriasi bukan untuk tujuan melawat ke negara lain.

Pembukaan kembali perbatasan di sejumlah negara mayoritas masih dilakukan untuk rute domestik bagi penduduk dan warganya. Rute domestik masih menjadi jalur utama yang menghidupi maskapai. Hal ini dikarenakan pada umumnya negara lain tidak memberlakukan larangan ketat bagi rute domestiknya, kecuali Indonesia saja yang memberlakukan dokumen kesehatan.

Seperti diberitakan Bloomberg sebelumnya, era pesawat berbadan besar diperkirakan akan berakhir. Boeing Co. berencana mengakhiri produksi pesawat jumbo jet 747 setelah diproduksi dalam 50 tahun terakhir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pesawat maskapai penerbangan
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top