Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perhapi Sepakat Produksi Batu Bara Mesti Dikendalikan

Tren harga sedang tertekan akibat kelebihan pasok batu bara di pasar dan lesunya permintaan batu bara.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 03 Juli 2020  |  20:20 WIB
Petugas mengawasi proses penimbunan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Petugas mengawasi proses penimbunan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia menilai pengendalian produksi merupakan kunci agar harga batu bara tak tertekan.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli berpendapat bahwa harga acuan batu bara (HBA) yang makin menurun memang merupakan cerminan lesunya pasar batu bara akibat pandemi Covid-19 yang saat ini melanda dunia.

Tren harga sedang tertekan akibat kelebihan pasok batu bara di pasar dan lesunya permintaan batu bara.

Hal itu terutama dari negara importir batu bara terbesar saat ini seperti China dan India yang merupakan negara pengimpor batu bara terbesar Indonesia yakni sekitar 60 persen.

"Selain itu, konsumsi batu bara domestik juga turun sekitar 11 persen hingga 15 persen akibat lemahnya permintaan listrik industri terutama di Pulau Jawa akibat kebijakan PSBB [pembatasan sosial skala besar]," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (3/7/2020).

Pada 2019, China mengimpor batu bara dari Indonesia sekitar 144 juta ton dan India sekitar 116 juta ton sehingga total 422 juta ton ke dua negara tersebut atau sebanyak 42 persen dari total ekspor batu bara Indonesia sebanyak 613,8 juta ton pada 2019.

Rizal menilai HBA sulit diprediksi kapan bisa rebound karena saat ini secara nasional, regional, dan global masih terdampak pandemi Covid-19 dan perekonomian belum pulih.

Pemulihan secara perlahan akan terjadi mulai tahun depan. Namun, yang harus dilakukan adalah penyesuaian angka produksi batu bara nasional untuk menyeimbangkan dengan permintaan sekarang posisinya masih kelebihan pasok. 

Pemerintah, katanya, harus mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mendukung ekspor batu bara agar dapat bersaing dengan pengekspor batu bara utama seperti Rusia, Australia, dan Afrika Selatan yang mampu menurunkan harga batu bara premium mereka di bawah US$50 per ton saat ini.

Hal ini diperlukan agar devisa dari ekspor batu bara ini tidak hilang begitu saja karena kalah bersaing dengan negara lain.

"Juga untuk menjaga agar pertambangan batu bara tetap dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara perhapi
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top