Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ada New Normal, Kemenperin Optimistis Kenaikan PMI Juni 2020

Kemenperin optimistis dengan kenaikan PMI Indonesia pada akhir semester I/2020 karena konsumsi domestik terdorong oleh kebijakan new normal.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 01 Juli 2020  |  17:28 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang. - Istimewa
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis dengan kenaikan Purchasing Manager's Index (PMI) Indonesia pada akhir semester I/2020 ke level 39,1.

Sebelumnya, angka PMI nasional anjlok ke sekitar level 26 pada awal kuartal II/2020. Namun demikian, angka tersebut terus menanjak selama dua bulan terakhir walau masih menunjukkan kontraksi lantaran masih di bawah level 50,0.

"Memang masih di bawah angka 50,0, tapi geliat industri sangat terasa. Alasan utama dari menggeliatnya industri adalah karena geliat masyarakat dengan aturan new normal atau aktivitas kebiasaan baru mendorong industri Indonesia. Ini mendorong konsumsi domestik mengalami peningkatan," ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita kepada Bisnis.com, Rabu (1/7/2020).

Seperti diketahui, PMI di Asia Tenggara naik 8,2 poin indeks ke level 43,7 dari posisi bulan sebelumnya 35,5. Walau demikian, PMI di beberapa negara telah menembus level 50,0 seperti Vietnam (51,1) dan Malaysia (51,0).

Sementara itu lima negara lainnya yang mengikuti survey PMI masih menujukkan kontraksi, seperti Filipina (49,7), Myanmar (48,7), Thailand (45,3), Indonesia (39,1) dan Singapura (38,8). Adapun, kondisi manufaktur di Asia Tenggara secara keseluruhan terus memburuk pada akhir semester I/2020.

Agus menyatakan lambatnya laju PMI nasional disebabkan oleh lambatnya pelonggaran protokol pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di dalam negeri. Menurutnya, pertumbuhan angka PMI nasional di masa depan akan ditentukan oleh kedisiplinan masyarakat dalam pelonggaran PSBB.

"Saya kira posisi Indonesia berbeda dengan negara-negara lain. Negara lain sudah membuka ekonominya lebih awal. Ini tentunya berpengaruh terhadap aktivitas kegiatan ekonomi," ucapnya.

Agus belum dapat meramalkan kapan angka PMI nasional dapat kembali ekspansif atau menembus level 50,0. Namun demikian, pihaknya optimistis laju pertumbuhan sektor manufaktur akan berakselerasi dengan adanya tambahan stimulus dalam Paket Pemulihan Ekonomi Nasional.

Kemenperin mencatat pemerintah telah mengakomodir delapan stimulus fiskal yang diusulkan oleh industriawan. Namun demikian, setidaknya masih ada sekitar 11 usulan stimulus fiskal lainnya yang belum diakomodir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top