Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemulihan Ekonomi Nasional, Faisal Basri Kritik Gemuk Anggaran Kementerian Prabowo

Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menyebutkan fokus anggaran pemerintah ke pertahanan tidak tepat sasaran karena saat ini yang dibutuhkan adalah memperkuat pangan, transportasi dan industri.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 28 Juni 2020  |  14:02 WIB
Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri mengkritik anggaran pertahanan yang tetap terbesar meski terjadi pengalihan untuk mengurangi dampak pandemi - Tangkap layar Cokro TV
Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri mengkritik anggaran pertahanan yang tetap terbesar meski terjadi pengalihan untuk mengurangi dampak pandemi - Tangkap layar Cokro TV

Bisnis.com, JAKARTA – Pemulihan ekonomi Indonesia diproyeksikan lebih lambat dibandingkan perkiraan pemerintah.

Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri menyebutkan berdasarkan perhitungan yang dirinya lakukan, ekonomi Indonesia tidak membentuk pola V yang diyakini banyak pihak pada tahun depan. Akan tetapi berbetuk seperti logo Nike, yang membentuk sudut lebih lebar.

kita tidak bisa mengejar [pertumbuhan ekonomi] 5,7 persen [seperti asumsi optimis] tapi tapi 3,8 persen. Ini lebih flat, kita harus lebih siap dengan pola pertumbuhan lebih rendah,” kata Faisal dalam kanal Youtube yang disiarkan Cokro TV, dan dibagikan melalui Linkedin, Minggu  (28/6/2020).

Menenurut Faisal, pertumbuhan ekonomi lebih rendah disebabkan, kinerja ekonomi hingga Juni 2020 sangat terpukul. Sejumlah sektor walau secara kumulatif tumbuh, namun jika diturunkan lebih dalam mengalami tekanan besar.

“Dari 14 sektor manufaktur, delapan diantaranya kontransi (minus),” kata Faisal.

Untuk memulihkan ekonomi, Faisal mengharapkan memberikan dukungan kepada sektor terdampak. Terutama kepada petani tanaman pangan, transportasi serta sektor manfaktur yang sudah minus.

“Namun realitasnya, anggaran fokus ke pertanahan, anggarannya hanya kurang [dipangkas] Rp9 triliun dan tahun depan naik lagi,” katanya.

Padahal, kata Faisal, seluruh kementerian lembaga telah menurunkan anggaran dengan jumlah besar. Hanya Kementerian Pertahan yang dipimpin Prabowo Subianto yang anggaran masih di atas Rp100 triliun.

Selain itu, ia menyebutkan dibutuhkan upaya menyelesaikan persoalan boros sumber daya agar produk di dalam negeri memiliki daya  saing. Saat ini Indonesia menghabiskan sumber daya yang lebih besar untuk setiap produk yang dihasilkan.

“Untuk 1 kg beras, untuk 1 sepeda motor yang dihasilkan, kita butuh 6,5 unit, padahal sebelumnya 4-4,5 saja,” katanya.  

Untuk fokus ketiga, Faisal mengharapkan pemerintah membantu percepatan pemulihan usaha mikro kecil dan menengah. Termasuk memberi pelatihan baru seperti yang diusung dalam semangat Kartu Prakerja. Faisal menyebutkan keterampilan baru bagi UMKM ini penting karena dunia sudah tidak sama lagi. Banyak usaha lama yang menjadi kurang relevan saat ini.

“Semoga banyak entrepreneur dan pelaku startup bisa menciptakan bisnis baru yang tidak terlihat generasi sebelumnya,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi Pertumbuhan Ekonomi sri mulyani faisal basri
Editor : Anggara Pernando
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top