Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

DKI Jakarta Masih Andalkan Wisatawan 'KTP Jakarta'

Wisatawan lokal DKI Jakarta akan dioptimalkan untuk memutar kembali roda perekonomian di sektor pariwisata Ibukota.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 23 Juni 2020  |  19:54 WIB
Suasana lengang terlihat di Pantai Ancol, Jakarta, Jumat (29/5/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Suasana lengang terlihat di Pantai Ancol, Jakarta, Jumat (29/5/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengandalkan wisatawan lokal Jakarta untuk menggenjot sektor pariwisata, di tengah penerapan pembatasan sosial berskala besar transisi (PSBBT) 

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia mengungkap hal itu dilakukan untuk menjaga agar penyebaran virus Covid-19 terus ditekan sementara roda perekonomian mulai diputar kembali..

"Kita bicara market untuk tempat-tempat wisata yang di Jakarta. Kita tidak perlu ngambil jauh-jauh yang dari luar kota atau luar negeri. Jakarta suruh liburan dulu, deh. Kita [Jakarta] market-nya juga gede loh. Jabodetabek itu 30 juta kalau bisa diolah, yang suka bikin puncak macet, Bandung macet itu," jelasnya, Selasa (23/6/2020).

Seperti diketahui, hal ini seiring dengan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar masa transisi (PSBBT) Fase I DKI Jakarta, di mana hanya segelintir usaha sektor hiburan dan wisata yang boleh beroperasi kembali.

Di antaranya, pusat perbelanjaan nonpangan, taman rekreasi, pantai, galeri, wisata terbatas di Kepulauan Seribu, hingga kebun binatang. Beberapa di antaranya beroperasi dengan kapasitas terbatas dan hanya menerika kunjungan warga ber-KTP DKI Jakarta.

Sementara lainnya, seperti gedung gertemuan (pameran di auditorium, MICE), bioskop, studio rekaman, rumah produksi film, hiburan malam, karaoke, bar, olahraga indoor, dan festival terbuka seperti pasar malam baru bisa beroperasi pada PSBBT Fase II.

"Bahkan Pulau Seribu sendiri buat orang Jabodetabek itu yang baru tahu cuma 33 persen. Ini riset bukannya main-main. Kita survei di orang market Jabodetabek. Ditanya Pulau Seribu, tahu. Tapi begitu ditanya 'berapa duit sih, ke sana?' Nah, bingung dia, yang tahu cuma 30 persen. Bayangin, Pulau Seribu saja berarti masih kurang promosi," tambahnya.

Namun demikian, Cucu menekankan bahwa upaya menggenjot wisatawan domestik dari Jakarta dan sekitarnya ini baru akan digelar apabila pandemi Covid-19 sudah dinyatakan aman. Minimal dengan pemberlakuan PSBBT Fase II sebagai persiapan menuju tahap new normal selanjutnya.

Terlebih, masyarakat masih cendetung takut. Antusiasme masyarakat untuk ke tempat hiburan dan wisata masih belum begitu tinggi, "Misalnya Ancol itu hari pertama [beroperasi] hanya 2.600, kedua sekitar 4.600. Itu dari 20.000, loh, kapasitas yang mereka buka."

Oleh sebab itu, Cucu menjelaskan bahwa pihaknya terus menggelar dialog dengan para pelaku usaha sektor hiburan dan wisata demi mencari solusi bagaimana bisa tetap melaksanakan kegiatan, namun dengan protokol kesehatan yang tetap terjaga.

"Saya juga tanya sama APPBI untuk mal itu kisarannya sekitar 30 persen untuk weekdays, kalau wekend 30-40 persen. Tergantung malnya. Ragunan dari [kuota] 1.000 cuma 600-an. Taman Mini juga hari pertama 1.500, tapi hari kedua hampir 3 kali lipat, 4.300 kalau tidak salah. Tapi itu masih jauh di bawah kapasitasnya mereka," tutupnya..

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata dki jakarta
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top