Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Baja Belum Akan Meningkatkan Konsumsi Gas

Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) mencatat utilitas industri hulu baja berada di kisaran 40-50 persen sebhelum pandemi virus corona atau Covid-19 menyerang.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 16 Juni 2020  |  18:31 WIB
Pekerja pabrik menyusun bagian menara saluran tegangan ekstra tinggi (SUTT) yang baru saja di olah dari baja canai panas (HCR) di pabrik PT Waskita Karya Infrastruktur. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi bagian menara SUTET 48.000 ton per tahun.
Pekerja pabrik menyusun bagian menara saluran tegangan ekstra tinggi (SUTT) yang baru saja di olah dari baja canai panas (HCR) di pabrik PT Waskita Karya Infrastruktur. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi bagian menara SUTET 48.000 ton per tahun.

Bisnis.com, JAKARTA - Penurunan tarif gas menjadi US$6 per mmbtu tidak otomatis meningkatkan kinerja industri baja dalam wakttu dekat.

Pasalnya, permintaan baja di dalam negeri saat ini sedang terpukul jauh akibat pandemi COvid-19.

Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) mencatat utilitas industri hulu baja berada di kisaran 40-50 persen sebhelum pandemi virus corona atau Covid-19 menyerang. Namun demikian, angka tersebut saat ini berada di kisaran 20-30 persen.

"Kalau [penurunan tarif gas] dilakukan saat kondisi normal, roda industri baja akan bergerak lebih cepat. Tapi, ini baru dilaksanakan 4 tahun kemudian [setelah penerbitan Perpres No/40/2016] dan diterapkan saat pandemi. Mana munkin bulan depan konsumsi gas langsung naik," kata Wakil Ketua Umum IISIA Ismail Mandry kepada Bisnis, Selasa (16/6/2020).

Menurutnya, konsumsi gas oleh industri baja tidak akan meningkat pada tahun ini walaupun harganya sudah diturunkan. Pasalnya, lanjutnya, permintaan baja nasional merosot seiring tertundanya proyek konstruksi pemerintah maupun swasta.

Ismail menduga penundaan proyek konstruksi pemerintah disebabkan oleh pengalihan alokasi pembangunan ke penanganan Covid-19. Sementara itu, penundaan konstruksi sektor swasta disebabkan oleh kondisi pasar domestik yang tidak kondusif.

Namun demikian, pabrikan baja dinilai tetap optimistis dalam melihat perkembangan perekonomian memasuki masa keadaan normal baru (new normal).

Sebelumnya, Wakil Komisi Tetap Industri Hulu dan Petrokimia Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Achmad Widjaja mengatakan penurunan harga gas menjadi US$6 per mmbtu akan sangat membantu dunia usaha jika diimplementasikan. Dia pun berharap proses menuju implementasi tersebut tidak ada penundaan lagi.

"Juni industri harus sudah bangkit mereka akan tata ulang bujet. Jadi kami berharap pemberian harga gas terntentu tidak ada delay apapun," katanya.

Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim pernah mengatakan penurunan harga gas menjadi US$6 per MMBTU di kondisi normal seharusnya bisa menaikan utilisasi industri 10-20 persen dan meningkatkan daya saing sehingga tidak kalah dengan impor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

baja gas industri
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top