Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Permintaan Baja dalam 2 Bulan Ini Merosot Lebih dari 50 Persen

Sampai saat ini, pabrikan hulu baja masih belum melakukan pemutusan hubungan kerja maupun merumahkan tenaga kerja.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 29 Mei 2020  |  15:29 WIB
Pekerja mengawasi proses produksi lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil (HRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon, Banten, Kamis (7/2/2019). - ANTARA/Asep Fathulrahman
Pekerja mengawasi proses produksi lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil (HRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon, Banten, Kamis (7/2/2019). - ANTARA/Asep Fathulrahman

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia Iron and Steel Industry Association mendata utilisasi pabrikan pada April—Mei telah merosot mengikuti kontraksi permintaan. Namun, asosiasi belum akan merivisi target produksi.

Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Association Silmy Karim mengatakan bahwa permintaan pada industri hulu baja telah anjlok 50 persen—60 persen pada April—Mei 2020 secara tahunan. Namun, pihaknya belum akan merevisi proyeksi produksi baja hingga akhir tahun.

"Saya tidak mau berandai-andai, apalagi berpikir negatif. Kami akan antisipasi dan persiapkan sebaik-baiknya saja. Kami akan menunggu realisasi pasar pada Juni 2020," katanya kepada Bisnis, Jumat (29/5/2020).

IISIA berharap agar kondisi pasar baja nasional akan kembali seperti normal. Oleh karena itu, pihaknya akan fokus mendukung industri hilir baja dan pengguna baja saat protokol pembatasan sosial berskala besar (PSBB) terjadi.

Menurut Silmy, asosiasi akan memastikan kelancaran rantai pasok saat pasar kembali bergerak. Sementara itu, pabrikan baja nasional tidak menggunakan strategi mempertebal produksi alokasi ekspor lantaran permintaan pasar global juga terkontraksi.

"Kalau untuk baja, isunya menjaga pasar domestik agar tidak terkena banjir impor [baja]," ucapnya.

Sampai saat ini, katanya, pabrikan hulu baja masih belum melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun merumahkan tenaga kerja. Menurutnya, pabrikan mengalihfungsikan tugas tenaga kerja dari produksi menjadi maintenance mesin.

Di sisi lain, Silmy yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. menyatakan bahwa industri hilir dan industri pengguna akan menjaga agar tetap beroperasi.

Pabrikan, katanya, harus bersiap untuk melakukan antisipasi jika penanganan pandemi Covid-19 berlarut agar tetap bisa menjaga proses produksi.

Menurutnya, antisipasi tersebut penting lantaran karakteristik industri baja yang sulit kembali ke keadaan normal.

"Apabila industri sempat mati, maka akan sulit untuk dihidupkan kembali karena dibutuhkan usaha ekstra dan bisa memakan waktu lama serta biaya lebih besar untuk memulihkannya," ujarnya.

Maka dari itu, Silmy berharap supaya kondisi perekonomian pada semester II/2020 akan membaik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

baja iisia
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top