Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

New Normal Bergulir, Penyerapan Tenaga Kerja Diperkirakan Seret

Dengan turunnya pertumbuhan ekonomi pada tahun ini, secara otomatis tingkat pengangguran akan meningkat dan disusul dengan naiknya tingkat kemiskinan.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 27 Mei 2020  |  18:59 WIB
Sejumlah pekerja berjalan usai bekerja dengan latar belakang gedung perkantoran di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (16/4/2020). Pemprov DKI Jakarta akan memberikan sanksi berupa mencabut perizinan kepada perusahaan yang tetap beroperasi di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kecuali delapan sektor yang memang diizinkan. - ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Sejumlah pekerja berjalan usai bekerja dengan latar belakang gedung perkantoran di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (16/4/2020). Pemprov DKI Jakarta akan memberikan sanksi berupa mencabut perizinan kepada perusahaan yang tetap beroperasi di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kecuali delapan sektor yang memang diizinkan. - ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Bisnis.com, JAKARTA - Penerapan hidup normal baru atau new normal oleh pemerintah diproyeksikan tidak akan menyerap tenaga kerja terlalu banyak ke depannya karena faktor ketidakpastian pemulihan perekonomian domestik. 
Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad mengatakan dengan turunnya pertumbuhan ekonomi pada tahun ini, secara otomatis tingkat pengangguran akan meningkat dan disusul dengan naiknya tingkat kemiskinan.
"New normal itu bukan full capacity, jadi tidak bisa seperti kondisi normal. New normal itu kondisi keterbatasan," kata Tauhid, Rabu (27/5/2020).
Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan bakal mencapai 2,3 persen (yoy) atau terkontraksi hingga -0,4 persen (yoy) pada 2020 ini.
Bila ekonomi masih mampu tumbuh di level 2,3 persen (yoy), pengangguran masih akan bertambah 2,92 juta orang. Bila terkontraksi hingga -0,4 persen (yoy), jumlah pengangguran akan bertambah 5,23 juta orang.
Tauhid mewanti-wanti, bila pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2020 ternyata mengalami kontraksi, maka penyerapan tenaga kerja akan tetap lambat meski new normal sepenuhnya efektif pada kuartal III/2020 mendatang.
Oleh karenanya, Tauhid menyarankan kepada pemerintah untuk menambahkan stimulus pada sektor manufaktur padat karya karena sektor ini memiliki peranan lebih dalam menyerap tenaga kerja.
Masalahnya, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang akan digulirkan oleh pemerintah sebesar Rp642,17 triliun terlalu banyak yang terkonsentrasi pada BUMN.
Dalam Perpres No. 54/2020 pemerintah telah menganggarkan dukungan dana kepada BUMN sebesar Rp27,56 triliun dan lewat program PEN dukungan ini ditambah lagi sebesar Rp125,19 triliun.
Adapun, fasilitas restrukturisasi kredit yang diberikan oleh pemerintah tidak spesifik diarahkan kepada sektor padat karya.
Seharusnya, fasilitas restrukturisasi ini diarahkan kepada sektor padat karya. "Insentifnya belum nendang, industri hanya menikmati insetif pajak dan insentif lainnya kebanyakan kepada sektor nonindustri," kata Tauhid.
Menurut Tauhid, penting bagi pemerintah untuk menghitung ulang insentif yang diberikan dan mempertimbangkan kembali peranan masih-masing sektor terhadap perekonomian secara utuh.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona pemulihan ekonomi New Normal
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top