Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Petrokimia Belum Nikmati Harga Gas Khusus

Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiyono menyatakan pihaknya akan melakukan dialog dengan industri penyalur gas terkait tarif gas untuk industri petrokimia.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 27 Mei 2020  |  16:52 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Produsen Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas) mencatat tarif gas yang dikenakan pada pabrikan petrokimia hingga Rabu (27/5/2020) belum berubah berkisar US$9,5/mmbtu.

Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiyono menyatakan pihaknya akan melakukan dialog dengan industri penyalur gas terkait tarif gas untuk industri petrokimia. Pemerintah sebelumnya menerbitkan Peraturan Menteri ESDM No. 8/2020 tentang Tata Cara Penetapan Harga dan Pengguna Gas Bumi Tertentu.

"Kalau dari pemerintah sudah jelas [penurunan tarif gas] berlaku per 13 April 2020. Menurut pemahaman kami ada dua invoice [tarif gas untuk bulan ini: selama tanggal 1-13 pakai harga lama, tanggal 14 seterusnya pakai harga baru. Yang terjadi saat ini, mereka masih charge harga lama," katanya kepada Bisnis, Rabu (27/5/2020).

Walau implementasi penurunan tarif gas terlambat, Fajar menyampaikan utilitas industri hulu petrokimia masih optimum. Menurutnya, utilitas pada pabrikan hulu dan antara petrokimia memiliki utilitas sekitar 90-95 persen.

Namun demikian, lanjutnya, permintaan produk petrokimia di dalam negeri merosot hingga 40 persen. Alhasil, pabrikan hulu petrokimia yang berorientasi domestik beralih ke pasar global sejak awal kuartal II/2020 untuk meringankan beban pada gudang industri petrokimia.

Menurutnya, industri hulu petrokimia nasional pada bulan lalu berhasil mengekspor sekitar 30.000 ton produk hulu petrokimia. Pada bulan ini, lanjutnya, target ekspor produk hulu petrokimia sekitar 35.000 ton lantaran Banglades dan India sudah melonggarkan protokol penguncian dan berpotensi menjadi negara tujuan ekspor.

Fajar menambahkan penurunan permintaan produk petrokimia di dalam negeri membuat utilitas industri hilir nasional anjlok dari 100 persen ke kisaran 60-70 persen. Untuk meningkatkan utiltias pabrikan hilir, Fajar berujar pabrikan hilir harus memperbesar alokasi produksi pasar global.

"Mudah-mudahan di akhir Juni 2020 kondisi membaik [dan pabrikan petrokimia] bisa recovery dan utilitas bisa naik di industri hilir," ucapnya.

Meskipun permintaan domestik merosot, Fajar menyatakan mayoritas arus kas pabrikan masih aman. Fajar berpendapat hal tersebut disebabkan oleh bertahannya harga bahan baku industri hulu petrokimia saat harga minyak mentah dunia turun signifikan.

Walaupun demikian, Fajar menyatakan pabrikan petrokimia tetap merumahkan sekitar 20-30 persen tenaga kerja di pabrikan. Hal tersebut, ujar Firman, dilakukan untuk memenuhi protokol kesehatan di pabrikan agar bisa terus berproduksi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Gas stimulus
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top