Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lari dari Kontraksi Ekonomi, Orang Tajir China Belanja Rumah Mewah

Kendati China telah lepas dari pandemi virus corona, kontraksi ekonomi menghantui dan mendorong orang tajir Negeri Panda belanja rumah mewah
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 26 Mei 2020  |  11:15 WIB
Yuan - Bloomberg
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA— Orang tajir di China mulai berbelanja rumah mewah agar bisa lari dari kontraksi ekonomi Negeri Panda.

Dikutip dari Bloomberg, Selasa (26/5/2020), orang tajir di China belanja rumah mewah untuk menyelamatkan uangnya dari kejatuhan ekonomi. Adapun, tingginya inflasi dan melemahnya yuan menjadi dua penggerak utama gelombang pencarian rumah mewah.

Pendiri Black Diamondz, agen penjualan properti mewah di Australia, Monika Tu mengatakan sejak Maret pihaknya telah menjual 85 juta dolar Australia atau setara dengan US$55 juta pada property utama dengan separuhnya berasal dari klien China.

Kondisi tersebut menunjukkan kenaikkan 25 persen dari awal tahun. Adapun, rumah dijual pada level 7,25 juta dolar Australia dan 19,5 juta dolar Australia yang berada di Sydney dan pinggir pantai seperti di Point Piper.

Pelonggaran karantina wilayah akibat virus corona pun mendorong orang kaya asal China lebih mudah untuk melihat langsung dan melakukan transaksi. Beberapa negara tujuan yakni Shanghai, China; Seoul, Korea Selatan dan Sydney, Australia.

Permintaan pembeli asal China terhadap properti di Korea Selatan naik 180 persen pada kuartal I/2020 dibandingkan dengan kuartal IV/2019. Di sisi lain permintaan rumah di Selandia Baru naik 75 persen.

Di negara favorit lainnya yakni Singapura, tur virtual dilakukan untuk mengamankan transaksi jutaan dolar menunjukkan bahwa transaksi terus bertambah. Bahkan saat karantina wilayah parsial diberlakukan di Singapura, tiga klien asal China membeli enam apartemen dengan niali total 20 juta dolar Singapura atau setara dengan US$11 juta di Marina One Residences.

Hal itu kontras dengan potret yang terjadi di London, Inggris dan New York, Amerika Serikat karena sektor properti masih terdampak penerapan karantina wilayah.

“Mereka menganggap pasar properti Singapura sebagai aset aman karena stabilitasnya. Singapura pasarnya lebih teregulasi dibandingkan dengan, katakan Hong Kong,” ujar Clarence Foo, seorang agen properti di unit ERA, APAC Realty Ltd.

Di luar pusat papsar keuangan Asia, permintaan juga menanjak. Dalam dua bulan belakangan, pencarian apartemen dan bungalow degan harga US$2 juta hingga US$5 juta terjadi di Malaysia.

Agen Properti Azmi & Co, Zulkhairi Anwar mengatakan minat terhadap produk properti di Negeri Jiran akan bertahan dan tak akan tergerus pandemi.

“Malaysia menarik bagi mereka karena terdapat populasi China di sini yang membuat mereka lebih mudah untuk terhubung dan properti mewah kami masih lebih murah dibandingkan dengan Singapura,” katanya.

Di Shenzhen, penjualan rumah mewah mencapai rekor baru, mengacu pada Landz Realtor yang mencatat penjualan produk mewah. Salah satu proyek di Qianhai, menjual 135 unit dengan harga satuan US$3 juta.

Di Shanghai, permintaan telah mencapai lima kali lipat untuk apartemen seharga US$2,4 juta. Direktur Riset Agensi Real Estat China, Yang Kewei mengatakan investor menilai properti merupakan pelindung nilai terbaik yang mampu melawan inflasi. Selain itu, asumsi terkait dengan kebijakan otoritas akan bermbas langsung terhadap pelonggaran di pasar properti.

“Pembeli ini menambah aset aman merekak melalui real estat karena ekonomi melambat dan inflasi meningkat,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti china ekonomi china

Sumber : Bloomberg

Editor : Duwi Setiya Ariyanti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top