Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengembang Singapura Cuma Jual 277 Unit Hunian Sebulan, Mei Lebih Parah!

Tercatat penjualan hunian mencapai 277 unit sepanjang April 2020. Namun, pada Mei 2020, diperkirakan penjualan properti dapat menurun di bawah 200 unit.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 17 Mei 2020  |  16:29 WIB
PM Singapura Lee Hsien Loong menegaskan negeri itu akan melakukan sejumlah langkah baru menghadapi Corona - Faceboo/Lee Hsien Loong
PM Singapura Lee Hsien Loong menegaskan negeri itu akan melakukan sejumlah langkah baru menghadapi Corona - Faceboo/Lee Hsien Loong

Bisnis.com, JAKARTA – Meskipun masih ada penerapan aturan pembatasan sosial sejak 7 April lalu, pengembang di Singapura tetap bisa melakukan penjualan hunian tidak termasuk kondominum mewah.

Tercatat penjualan hunian mencapai 277 unit sepanjang April 2020. Namun, pada Mei 2020, diperkirakan penjualan properti dapat menurun di bawah 200 unit.

“Pembeli dan investor beruntung masih punya akses untuk memamerkan propertinya pada sepekan pertama April. Setelahnya, semua properti yang dijual ditutup untuk pameran sampai tiga pekan. Lalu, karena circuit breaker diperpanjang, pameran tutup sampai akhir Mei,” ungkap Ismail Gafoor, CEO PropNex Realty, dilansir Bloomberg, Minggu (17/5/2020).

Jika termasuk dengan penjualan kondominium mewah, jumlah hunian yang terjual sepanjang April mencapai 293 unit. Adapun, 192 unit di antaranya ditransaksikan sebelum pemberlakuan circuit breaker.

Jumlah penjualan hunian menengah tercatat masih mengalami penurunan sampai 58 persen dibandingkan dengan penjualan 660 unit pada Maret. Adapun, secara tahunan, jumlah penjualan pada April 2020 juga turun 62,4 persen dari 2019.

Urban Redevelopment Authority (URA) Singapura mencatat bahwa penjualan terendah terjadi pada Januari 2009, hanya sebanyak 108 unit. Hal itu senada dengan penjualan pada kondisi krisis global yang per bulannya hanya mencapai 200 unit.

“Penjualan hunian pribadi pada April bisa dikatakan masih cukup baik di tengah adanya penutupan dan pelarangan pameran. Peluncuran proyek baru pun hanya ada satu, Kopar di Newton,” ungkap Gafoor.

Melihat kondisi penjualan di tengah circuit breaker, Head of Research and Consultancy OrangeTee & Tie Christine Sun mengatakan masih cukup baik.

“Melihat kondisi tingginya ketidakpastian ekonomi dan pembatasan, catatan penjualan masih sangat bagus, apalagi hunian kelas atas masih ada yang terjual. Ini mengindikasikan bahwa meskipun di tengah pandemi, banyak orang kaya di luar sana yang memandang properti di Singapura sebagai aset yang menarik,” ungkapnya.

Ke depan, Head of Research Cushman & Wakefield Christine Li memprediksikan, penjualan hunian diperkirakan akan terhenti sepanjang Mei, apalagi karena aturan circuit breaker diperpanjang sampai 1 Juni 2020.

“Kami yakin pengembang akan lebih hati-hati untuk meluncurkan proyek selama circuit breaker. Jadi peluncurannya kemungkinan ditunda sampai Juni. Nantinya aktivitas penjualan dan pameran kemungkinan akan bertumpuk pada bulan itu [Juni],” ungkap Li.

Dengan penguncian diperpanjang hingga 1 Juni untuk menahan lonjakan infeksi, penjualan Mei diperkirakan turun di bawah 200 unit.

Dia menambahkan, umumnya Juni bukan merupakan waktu yang baik untuk peluncuran produk baru karena bertepatan dengan periode liburan sekolah. Namun, tahun ini diperkirakan banyak keluarga yang tidak menghabiskan uangnya untuk liburan sehingga bisa dialokasikan untuk beli hunian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti singapura Lockdown
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top