Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Covid-19 Picu Ketidakpastian Bagi Industri Farmasi Global

Covid-19 telah menyebabkan disrupsi sistem kesehatan yang berdampak negatif terhadap utilisasi industri.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 21 Mei 2020  |  14:51 WIB
Pekerja farmasi beraktivitas memproduksi obat di pabrik Pfizer Indonesia, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Pekerja farmasi beraktivitas memproduksi obat di pabrik Pfizer Indonesia, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan industri farmasi global diprediksi naik 1%-3% dalam 12-18 bulan ke depan. Angka ini masih lebih rendah dari prediksi sebelumnya lantaran ketidakpastian akibat kondisi wabah Covid-19.

Hal ini diungkap dalam hasil riset yang dilakukan oleh Moody’s Investor Service.Inc yang dirilis pada 19 Mei 2020.

Dalam laporan ini, EBITDA tahunan industri farmasi global terkoreksi dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya yang mencapai 2,5%-3,5%. Covid-19 telah menyebabkan disrupsi sistem kesehatan yang berdampak negatif terhadap utilisasi industri.

Pandemi Covid-19 juga telah menyebabkan penurunan permintaan terhadap sejumlah sektor farmasi non esensial seperti dermatologi dan estetika. 

Di sisi lain, kebutuhan produk seperti onkologi, imunologi dan diabetes meningkat. 

Produk onkologi akan menjadi paling pesat pertumbuhannya, termasuk obat immuno-oncology yang dipasarkan oleh Merck & Co. Inc. (A1 stable), Bristol-Myers Squibb Company (A2 negative), Roche Holding AG (Aa3 positive) and AstraZeneca PLC (A3 stable). 

“Setiap produk perusahaan akan terus menerima perluasan label. Di luar kanker, obat-obatan untuk gangguan autoimun, serta produk diabetes tertentu, juga akan menguat pertumbuhannya,” seperti dikutip dari laporan tersebut. 

Dari sisi penelitian dan pengembangan atau R&D, Covid-19 memunculkan dampak yang beragam. Pandemi ini telah memperlambat uji klinis sejumlah obat terapeutik yang sedang berproses sehingga menyebabkan terlambatnya pemasaran obat baru.

Di saat yang sama, sejumlah perusahaan tengah mengembangkan produk untuk pengobatan Covid-19. Hal ini berimplikasi positif terhadap aspek lingkungan, sosial, dan pemerintahan (ESG). Namun, dampak terhadap aspek finansial lebih tinggi akibat ketidakpastian perizinan, harga, persaingan usaha, dan lamanya pandemi berlangsung.

Pertumbuhan semakin terlihat pada industri farmasi di China sebagai pasar terbesar kedua di dunia dengan adanya ekspansi cakupan pelayanan kesehatan dan penggunaan obat inovatif. 

Peningkatan volume akan melampaui pengikisan harga dalam 12-18 bulan ke depan. “Kami tidak mengantisipasi dampak negatif yang signifikan terkait dengan ketegangan perdagangan antara AS dan China, meskipun ada potensi tarif baru yang dapat membuat produk-produk buatan AS lebih mahal,” tulisnya.

Pandemi ini juga telah menyebabkan perubahan harga obat yang signifikan lantaran tertundanya penetapan harga. 

Proses akuisisi masih akan terus berlanjut setelah pandemi akan berakhir. Faktor yang mendorong adalah aset-aset yang menarik dan sinergi pada pengeluaran biaya. 

Bahkan, dana tunai dan investasi dari 10 perusahaan AS terbesar di industri ini tercatat  berjumlah US$100 miliar pada 31 Desember 2019. Banyak perusahaan besar Eropa dan Jepang juga memiliki aset yang likuid. 

Namun, seluruh prediksi ini dapat berubah, jika fleksibilitas penentuan harga terjadi. Setidaknya pertumbuhan EBITDA industri farmasi bisa melebihi 4% dalam 12-18 bulan ke depan. 

Jika banyak produk baru yang diluncurkan dan raksasa farmasi global bisa menurunkan pengeluaran biaya, maka pertumbuhan akan semakin terdorong. 

“Kami dapat mengubah outlook menjadi negatif jika pertumbuhan EBITDA turun di bawah 0%. Faktornya termasuk penjualan produk baru yang mengecewakan dan perubahan kebijakan atau legislatif.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

farmasi moodys covid-19
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top