Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PO Bus Akan Dapat Dua Skema Keringanan Kredit

Kreditur dengan nilai kredit di atas Rp10 miliar sampai Rp100 miliar bisa segera memperoleh dukungan dengan skema yang berbeda.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 27 April 2020  |  13:59 WIB
Calon penumpang berjalan menuju bus antarkota antarprovinsi (AKAP) di area pemberangkatan terminal Pulo Gebang, Jakarta, Selasa (21/4/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Calon penumpang berjalan menuju bus antarkota antarprovinsi (AKAP) di area pemberangkatan terminal Pulo Gebang, Jakarta, Selasa (21/4/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah telah menyusun skema berbeda bagi pelaku usaha dengan nilai kredit di atas Rp10 miliar agar dapat memeperoleh keringanan atau melakukan relaksasi.

Staf khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo mengatakan bagi pelaku usaha seperti operator bus yang memiliki nilai pembiayaan lebih dari Rp10 miliar terdapat dua skema yang diberikan yakni cost sharing dan resharing dengan perbankan. Hal ini diberikan utamanya dengan pelaku yang memiliki kualitas kredit lancar agar bisa mendapatkan dukungan atas restrukturisasi.

"Dalam waktu dekat akan segera terbit. Bukan apa-apa kita menghindari supaya yang butuh mendapat jangan sampai yang dapat call tiga dan call empat yang tidak kooperatif," jelasnya, Senin (27/4/2020).

Yustinus mengatakan data kualitas kredit ini hanya dimiliki oleh lembaga pembiayaan dan perbankan. Saat ini, lanjutnya, data-data tersebut hampir semua masuk dan tinggal finalisasi.

Dia juga mengharapkan kreditur dengan nilai kredit di atas Rp10 miliar sampai Rp100 miliar bisa segera memperoleh dukungan dengan skema yang berbeda. Hal ini menjadi ranah yang akan diperjuangkan bersama oleh Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Ini paralel dipikirkan mohon sabar sedikit. Satu dua bulan ini sudah fokus UKM. Paralel bisa longgar sebulan dua bulan lagi stimulus akan dikeluarkan,"tekannya.

Organda menilai saat ini kendaraan merupakan aset terbesar perusahaan tetapi tak bisa lagi beroperasi dan menghasilkan keuntungan.

Terlebih lagi dengan adanya pelarangan yang membuat angkutannya makin tidak bisa mengangkut penumpang.

Persoalannya, kendati kendaraan tidak beroperasional dan tidak menghasilkan keuntungan tetapi setoran kredit kendaraan tersebut terus ditarik kreditur. Selain itu, banyak perusahaan yang memiliki aset di atas Rp10 miliar karena memiliki banyak armada.

Sementara itu, untuk saat ini relaksasi dan restrukturisasi kredit dari OJK hanya berlaku untuk pengusaha yang asetnya di bawah Rp10 miliar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

organda bus
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top