Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspansi Ritel Modern Tahun Ini Terkendala

Adanya wabah corona membuat ekspansi di sektor ritel modern pada tahun ini bisa terkendala dan tidak sesuai target.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 22 April 2020  |  06:31 WIB
Suasana salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Kamis (19/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Suasana salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Kamis (19/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Mewabahnya corona dan adanya kebijakan pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) membuat ekspansi ritel modern pada tahun ini terkendala.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey mengatakan wabah corona membuat hampir semua sektor ritel terdampak. Meskipun masih ada beberapa sektor yang masih bisa bertahan dan dibolehkan beroperasi ditengah kebijakan PSBB, seperti, toko kelontong, toko serba ada dan pasar swalayan.

Dalam hal ini, Roy mengatakan industri ritel akan sulit melakukan ekspansi sebagaimana yang direncanakan sebelumnya.

“Ya akan sulit ekspansi. Meski ada ritel yang buka seperti supermarket pun akan sulit, mereka melihat dulu kondisi daerah sasarannya, dan juga izin dari pemda. Kalau yang tutup beroperasi mereka akan menahan ekspansi,” kata Roy, Selasa (21/4/2020).

Menurutnya, jika diibaratkan dari target 100 persen untuk ekspansi, kemungkinan besar hanya bisa terwujud 10-20 persen saja. Lebih lanjut, dia menambahkan, meski para peritel modern saat ini memiliki toko daring, namun penjualan secara dating hanya menyumbang atau berkontribusi pada revenue sekitar 15 persen saja.

Oleh sebab itu, dia meminta kepada pemerintah, agar diberikan relaksasi seperti keringanan pembayaran pajak, stimulus fiskal untuk perdagangan besar dan perdagangan eceran. Di samping itu, Roy juga berharap ada level of playing field dimana pemerintah memberikan kesamaan hak untuk beroperasi.

Di sisi lain, Roy menyebutkan, kebijakan pemerintah melakukan pelarangan mudik akan berdampak pada penjualan ritel modern di daerah pada momentum Ramadan dan Lebaran tahun ini.

“Biasanya kan kalau orang mudik akan belanja banyak, beli baju, biskuit jajanan-jajanan. Nah dengan larangan ini otomatis pembelian bisa berkurang,” kata Roy

Menurutnya adanya larangan mudik ini pun tak serta merta berdampak pada peningkatan permintaan di kota besar. Sebab, di kota besar pun marak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) termasuk yang dilakukan Ramayana Departement Store terhadap karyawannya belum lama ini.

“Jadi kaitannya dengan dampak tidak mudik itu market size berkurang, dan gak bisa dibilang peningkatan di kota besar, kan ada PHK besar-besaran juga.”

Kendati demikian, dia menilai kebijakan larangan mudik sudah tepat, agar wabah Covid-19 tidak menyebar secara masif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ritel ritel modern Virus Corona
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top