Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Alkes Keluhkan BPJS Kesehatan Tunggak Bayar

Gabungan Alat Kesehatan Indonesia (Gakeslab) menyebutkan hingga saat ini sekitar Rp4 triliun biaya yang belum dibayarkan oleh BPJS Kesehatan. 
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 21 April 2020  |  14:27 WIB
Petugas kesehatan memeriksa alat kesehatan di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran itu siap digunakan untuk menangani 3.000 pasien. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A - Pool
Petugas kesehatan memeriksa alat kesehatan di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran itu siap digunakan untuk menangani 3.000 pasien. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A - Pool

Bisnis.com, JAKARTA — Persoalan tunda bayar oleh BPJS Kesehatan ternyata tidak hanya dialami oleh industri farmasi tetapi juga alat kesehatan atau alkes. 

Sekretaris Jenderal Gabungan Alat Kesehatan Indonesia (Gakeslab) Randy H. Teguh mengatakan hingga saat ini sekitar Rp4 triliun biaya yang belum dibayarkan oleh BPJS Kesehatan. 

Menurutnya, kebanyakan dana BPJS biasannya dialokasikan untuk barang rutin sekali pakai seperti infus, jarum suntik, dan perban. Dia pun mengaku kerap menyuarakan solusi pembayaran tanpa perantara kepada perusahaan.

"Jadi selama ini kami sudah minta pembayaran jangan melalui rumah sakit karena mereka akan memiliki prioritas untuk pembayaran dokter atau obat atau apa terlebih dahulu. Sehingga tidak ada keterlambatan yang tentu mengganggu operasional perusahaan," katanya kepada Bisnis, Selasa (21/4/2020).

Randy mengemukakan adanya wabah Covid-19 ini diharapkan dapat lebih membuka mata dan kesadaran pada pemangku kebijakan bahwa industri kesehatan yang selama ini mungkin diabaikan terbukti berperan sangat vital dalam menjaga ketahanan negara. 

Direktur Eksekutfi Gabungan Pengusaha Farmasi (GP Farmasi) Dorojatun Sanusi juga mengatakan dengan adanya wabah Covid-19 ini sebaiknya menjadi pelajaran berharga bahwa industri kesehatan sangat membutuhkan dana jaminan bahan baku. 

Hal itu guna menjaga kelancaran produktivitas dan ketersediaan obat yang merata dan berkesinambungan khususnya untuk JKN yang tentu terus dibutuhkan kendati adanya wabah Covid-19. 

"Tunggakan BPJS untuk obat saat ini sekitar Rp4,5-Rp5 triliun tetapi kami masih memiliki komitmen tinggi untuk supplay hingga donasi guna membantu menghadapi Covid-19," ujarnya. 

Pihaknya pun berharap BPJS terus memperbaiki kinerja. Dengan begitu, tidak ada lagi persoalan tunda bayar yang berkepanjangan.

"Soal BPJS ini memang cerita lama tetapi saya heran kenapa tidak pernah ada yang peduli," kata Dorojatun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rumah sakit BPJS Kesehatan alat kesehatan
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top