Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Persepatuan Sebut Insentif Biaya Listrik Tak Dorong Kinerja

Direktur Eksekutif Asprisindo Firman Bakrie mengatakan tarif listrik hanya berkontribusi kurang dari 10 persen dari total biaya produksi.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 02 April 2020  |  16:57 WIB
Pengrajin menyelesaikan pembuatan alas sepatu di Jakarta, Jumat (17/1). Bisnis - Abdullah Azzam
Pengrajin menyelesaikan pembuatan alas sepatu di Jakarta, Jumat (17/1). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) menyatakan peringanan biaya listrik tidak serta merta mengakselerasi kinerja industri yang kehilangan pasar.

Direktur Eksekutif Asprisindo Firman Bakrie mengatakan tarif listrik hanya berkontribusi kurang dari 10 persen dari total biaya produksi. Selain itu, pabrikan juga tidak akan menggunakan listrik dalam waktu dekat lantaran akan menghentikan produksi secara keseluruhan.

"Pasar dalam negeri sudah hilang. Minggu ini dan minggu dapan adalah pabrik-pabrik orientasi dalam negeri yang akan 100 persen [menghentikan produksinya]. Jadi, kami sudah benar-benar [akan] stop produksi untuk pasar domestik," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (2/4/2020).

Firman menyatakan nilai produksi pabrikan berorientasi dalam negeri menopang sekitar 45 persen dati total nilai produksi alas kaki nasional. Sementara itu, pabrikan berorientasi ekspor menopang sekitar 50 persen.

Dengan kata lain, hampir separuh pabrikan sepatu di dalam negeri akan merumahkan tenaga kerjanya pada awal kuartal II/2020. Adapun,  Firman meramalkan seluruh pabrikan alas kaki akan menghentikan produksinya pada 1 Juni 2020.

"Saat ini, kami sudah tidak pakai [jasa] PLN, karena bicaranya bagaimana membayar karyawan," ucapnya.

Firman berpendapat insentif tersebut pun tidak bisa langsung dinikmati pabrikan saat masa recovery tiba. Pasalnya, ujarnya, saat ini gudang industri telah dipenuhi olah pasokan untuk pasar Lebaran.

Firman setidaknya menyebutkan tiga alasan. Pertama, pasar Lebaran menyerap sekitar 30-50 persen dari total produksi alas kaki dalam satu tahun. Kedua, daya beli masyarakat akan jatuh lebih dalam.

"[Ketiga,] ada potensi perubahan pola konsumsi. Alat kesehatan akan jadi pilihan untuk konsumsi pasca Covid-19. Mungkin, hand sanitizer atau masker akan jadi konsumsi pokok," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sepatu industri sepatu
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top