Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Vape Berpotensi Hadapi Kelangkaan Bahan Baku

E-liquid memiliki 5 komponen bahan baku yang seluruhnya masih diimpor yakni propylene glycol, vegetable glycerin, nikotin murni, essence dan natrium benzoat.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 30 Maret 2020  |  23:38 WIB
Ilustrasi rokok vape elektronik. - Bisnis/Abdullah Azzam
Ilustrasi rokok vape elektronik. - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) menyatakan pabrikan e-liquid saat ini sedang dihadapkan oleh potensi kelangkaan bahan baku.

Sekretaris Umum APVI Garindra Kartasasmita mengatakan sebagian negara pemasok menghentikan produksi lantaran merebaknya wabah virus corona atau Covid-19 di negara tersebut. Namun demikian, lanjutnya, saat ini produsen di negara tersebut sudah kembali berproduksi.

"Pengiriman nikotin dari China terlambat, tapi [pabrikan di] China sudah mulai produksi lagi. Essence juga kemungkinan besar akan terhambat ke depannya mengingat pandemi [Covid-19] semakin kuat di Amerika Serikat," katanya kepada Bisnis, Senin (30/3/2020).

Namun demikian, Garindra memastikan ketersediaan bahan baku di gudang industri sampai saat ini masih aman. Seperti diketahui, e-liquid memiliki lima komponen bahan baku yang seluruhnya masih bergantung pada impor yakni propylene glycol, vegetable glycerin, nikotin murni, essence dan natrium benzoat.

Di sisi lain, Garindra menyatakan pihaknya telah mengarahkan pabrikan untuk mengalihkan serapan e-liquid dari peritel tradisional ke pasar daring. Saat ini, lanjutnya, APVI sedang menggodok standar operasi atau SoP penjualan e-liquid di pasar daring.

Sebelumnya, Garindra mengatakan pabrikan cairan Vape tercatat telah memproduksi 40 juta botol atau naik sekitar 100 persen dari realisasi akhir 2018 yakni sekitar 20 juta botol. Adapun, Garindra menargetkan produksi cairan vape bisa naik menjadi 50 juta botol dengan pembayaran cukai lebih dari Rp1 triliun.

"Kami yakni [produksi botol tahun ini akan] lebih dari target, tapi untuk sementara target cukai kami sebesar itu. Pasar tidak jenuh, justru sangat berkembang baik," katanya kepada Bisnis, Jumat (31/1/2020).

Garindra menyampaikan secara komposisi cairan vape tersebut tetap didominasi oleh cairan basis bebas (free base) yakni sekitar 60 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan tengah 2019 yakni di level 50 persen.

Seperti diketahui, cairan vape dibagi menjadi dua jenis yakni free base dan nikotin garam. Cairan vape free base memiliki kadar nikotin sekitar 3Mg - 12Mg, sedangkan nikotin garam sekitar 20Mg - 50Mg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri Virus Corona Industri Vape
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top