Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Virus Corona Merebak, Bisnis Perhotelan Diyakini Tetap Stabil

Kinerja bisnis perhotelan pada tahun ini diproyeksi tetap positif meski dihadapkan pada berbagai tantangan.
Ilustrasi-Hotel/Jibiphoto-Sunaryo Haryo Bayu
Ilustrasi-Hotel/Jibiphoto-Sunaryo Haryo Bayu

Bisnis.com, JAKARTA — Bisnis properti di subsektor perhotelan diproyeksikan akan tetap stabil pada tahun ini meski dihadapkan pada berbagai tantangan, salah satunya adalah wabah virus Corona. 

Associate Director Coldwell Banker Commercial Dani Indra Bhatara mengatakan tren pertumbuhan di subsektor perhotelan pada setiap tahunnya masih mencatatkan kinerja yang baik, meskipun dari sisi okupansi rata-rata tidak selalu mengalami kenaikan. 

"Kalau terkait hotel sebenarnya termasuk sektor yang paling stabil. Dari sisi okupansi perubahannya tidak terlalu jauh," ujarnya, Senin (10/2/2020). 

Dia mengatakan tingkat okupansi pada tahun lalu memang mengalami penurunan dibandingkan tahun 2018. Hanya saja, okupansi pada 2019 mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan 2017 silam. 

Berdasarkan riset Coldwell Banker, pada kuartal IV/2019 rata-rata tingkat okupansi hotel di Jakarta naik 5,5 persen menjadi 66,8 persen. Namun, bila dibandingkan dengan periode yang sama di 2018, tingkat okupansi hotel di Jakarta turun 1,7 persen. 

Meskipun demikian, Dani menyatakan kondisi itu masih terbilang cukup baik meski tak seagresif pada 2018 yang terdorong oleh gelaran ajang internasional Asian Games.

"Tahun ini diharapkan memang tetap stabil dan ada sedikit peningkatan," katanya. 

Sepanjang tahun lalu, penambahan pasokan juga terlihat dari hotel klasifikasi bintang 3 dan 4 di antaranya Ibis Style (bintang 3) di TB Simatupang, Ibis Style Hotel (bintang 3) di Jakarta Pusat, dan Mercure Hotel (bintang 4) di Gatot Subroto. 

Dengan adanya tambahan pasokan tersebut, riset Coldwell mencatat secara kumulatif pasokan mencapai 38.256 kamar hotel di akhir 2019 atau tumbuh 0,5 persen. Kontribusi pasokan hotel didominasi oleh kelas bintang 4 sebesar 43,9 persen, bintang 3 sebesar 29,3 persen, dan bintang 5 sebesar 26,8 persen.

Sementara di luar Jakarta, pasokan hotel baru terdapat di Tangerang, Medan, Surabaya, Balikpapan dan Bali. Pasokan pada tahun lalu terbilang sedikit jika dibandingkan tahun 2018. 

Adapun, pada pada tahun ini, pasokan baru diperkirakan akan berasal dari Batam, Bali, Bogor, Depok, dan Bekasi dengan kelas bintang tiga dan bintang lima. 

Pada tahun ini, kegiatan meeting, incentives, conferencing, exhibitions (MICE) skala nasional dan internasional yang akan diselenggarakan oleh pemerintah dan perusahaan swasta diproyeksikan akan menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar perhotelan di Tanah Air.

Selain itu, tingkat okupansi juga akan didorong dari kegiatan wisata, liburan, kunjungan kerja dan ekspatriat.

Di sisi lain, Dani menyatakan bahwa virus corona turut memengaruhi sektor pariwisata di Tanah Air. Jumlah wisatawan mancanegara khususnya yang berasal dari China mengalami penurunan yang signifikan.

Kendati demikian, terdapat pula beberapa rencana perjalanan wisata yang awalnya akan ke luar negeri lantas mengalihkan perjalanannya ke dalam negeri seperti Bali sehingga tambahan turis domestik turut terdongkrak, juga pada sektor perhotelan.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Ilham Budhiman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper