Cadangan Devisa Naik Dorong Penguatan Nilai Tukar Rupiah

Sepanjang 2019, peningkatan cadangan devisa didorong oleh penerbitan utang pemerintah di pasar keuangan global.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 07 Februari 2020  |  19:33 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Kenaikan cadangan devisa pada Januari 2020 senilai US$2,5 miliar berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Dengan kenaikan senilai US$2,5 miliar, cadev pada bulan pertama tahun ini tercatat senilai US$131,7 miliar.

"Kenaikan cadev mendorong rupiah terapresiasi terhadap dolar AS. Sepanjang tahun 2019, peningkatan cadev didorong oleh penerbitan utang pemerintah di pasar keuangan global," kata Ekonom Insitute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira ketika dihubungi, Jumat (7/2/2020).

Pergerakan nilai tukar rupiah berakhir menguat 55 poin atau 0,40 persen di level Rp13.635 per dolar AS pada perdagangan Kamis (6/2/2020). Rupiah sedang dalam fase penguatan. Pada Jumat (7/2/2020), rupiah kemungkinan masih akan perkasa di level Rp13.585 - Rp13.665 per dolar AS.

Terkait peningkatan cadev, rata-rata yield surat berharga negara (SBN) pada 2019 berkisar 6 persen hingga 7,8 persen, yield spread yang lebar dibandingkan dengan treasury bond.

Hal tersebut, lanjut Bhima, membuat investor asing tertarik membeli SBN. Dia menuturkan kenaikan cadev juga perlu dicermati karena didominasi sisi portfolio dibandingkan dengan kinerja ekspor maupun pariwisata.

"Cadev sebaiknya tidak mengandalkan hot money secara berlebihan karena rentan terjadi pembalikan arah di tengah ketidakpastian ekonomi," ungkapnya.

Senada dengan Bhima, Ekonom Danamon Wisnu Wardana mengatakan peningkatan cadev tentu memberikan tambahan kekuatan untuk menjaga stabilitas rupiah karena merupakan pertimbangan utama investor langsung asing.

"Selain level cadev yang tinggi dalam level dolar AS maupun di atas batas rasio kecukupan, perlu dilihat juga ketahanan terhadap economic shock yang berasal dari faktor eksternal," katanya ketika dihubungi, Jumat (7/2/2020).

Jika mengacu pada panduan IMF, Wisnu menuturkan stabilitas nilai tukar terjadi ketika cadev mencapai 1,5 kali atau ekuivalen US$150 miliar dibandingkan dengan kinerja negara-negara tetangga di kawasan.

Ketika suatu kawasan mengalami economic shock secara bersamaan, lanjutnya, negara yang memiliki tabungan atau cadangan lebih banyak akan memiliki daya tahan yang lebih baik.

"Melihat prospek neraca eksternal Indonesia tahun ini, di mana CAD dan profil jatuh tempo utang luar negeri akan membaik, maka besar kesempatan bagi bank sentral untuk menambah cadangan devisa," ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cadangan devisa

Editor : Annisa Sulistyo Rini
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top