Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Biaya Energi Tak Kompetitif, Ekspor Sektor Manufaktur Sulit Dipacu

Harga gas yang dijanjikan turun ke level US$6 per MMBTU pada 2016 dari US$9,5-US$11 per MMBTU tidak kunjung terealisasi.
ilustrasi/Bisnis.com
ilustrasi/Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri pesimistis kinerja ekspor bakal meningkat lantaran tarif gas dan listrik belum kompetitif.

Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) menyatakan pabrikan besi dan baja konstruksi (long product) mengonsumsi sekitar 2 miliar kWh listrik per tahun untuk memproduksi 4 juta ton billet baja. Konsumsi listrik tersebut membuat pabrikan baja long product menghabiskan dana sekitar Rp2,1 triliun per tahun atau sekitar US$7,1 sen kWh.

Wakil Ketua Umum IISIA Ismail Mandry mengatakan pabrikan baja di luar negeri maksimal hanya mengeluarkan Rp1,09 triliun biaya listrik untuk jumlah produksi yang sama. Pasalnya, pabrikan baja di luar negeri hanya mengeluarkan sekitar US$3 sen-US$4 sen per kWh.

Menurutnya, harga gas yang dijanjikan turun ke level US$6 per MMBTU pada 2016 dari US$9,5-US$11 per MMBTU tidak kunjung terealisasi. Ismail mengatakan tingginya dua tarif energi tersebut membuat daya saing produk lokal rendah di pasar global.

"Bagaimana kita bisa bersaing? Itu baru energi, belum [tarif] logistik dan [tarif] KSO," katanya kepada Bisnis akhir pekan lalu.

Sebelumnya, Ketua Umum IISIA Silmy Karim mengatakan saat ini pabrikan logam secara umum merogoh US$7—US$11 sen per kWh untuk mendapatkan listrik dari Perusahaan Listrik Negara. Namun, lanjutnya, ada pabrikan yang membayar lebih rendah dari US$5,5 sen/kWh seperti PT Inalum.

Silmy mengusulkan agar tarif listrik di kawasan industri logam yang baru menetapkan tarif listrik di bawah US$6 sen/kWh dan tarif gas di bawah US$4—US$5/MMBTU.

Competitiveness suatu industri itu harus by design, disiapkan, tidak sekedar ujug-ujug. Intinya, listriknya mesti ada dan murah,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmdja mengatakan insentif tarif listrik pada pabrikan tekstil dan produk tekstil dapat meningkatkan produktivitas hingga 100%. Jemmy menyatakan pihaknya akan mengusulkan pemberian insentif untuk penggunaan listrik pada pukul 23.00-06.00.

"Kalau di China, pabrik garmen bisa dua shift, running 24 jam. Kalau dikasih tarif listrik lebih murah, [pabrikan garmen] Indonesia akan mencoba," katanya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Andi M. Arief
Editor : Galih Kurniawan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper