Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IISIA : Tarif Listrik di Kawasan Industri Prioritas Harus Murah

IISIA mengusulkan agar tarif listrik di kawasan industri logam yang baru ditetapkan di bawah US$6 sen/kWh, sedangkan tarif gas di bawah US$4—US$5/MMBTU.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  13:06 WIB
ilustrasi - Bisnis.com
ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) menyatakan pembangunan kawasan industri logam di luar Jawa akan membuat serapan baja meningkat. Namun, asosiasi menyarankan agar pemangku kepentingan mencari daerah dengan ongkos logistik dan listrik yang murah.

Ketua Umum IISIA Silmy Karim menilai pembangunan kawasan industri logam di luar Pulau Jawa merupakan langkah yang baik. Adapun, Silmy mengusulkan agar tarif listrik di kawasan industri logam yang baru ditetapkan di bawah US$6 sen/kWh, sedangkan tarif gas di bawah US$4—US$5/MMBTU.

Competitiveness suatu industri itu harus by design, disiapkan, tidak sekedar ujug-ujug. Intinya, listriknya mesti ada dan murah,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Silmy mencatat saat ini pabrikan logam secara umum merogoh US$7—US$11 sen/kWh untuk mendapatkan listrik dari PT Perusahaan Listrik Negara. Namun demikian, ada pabrikan yang membayar lebih rendah dari US$5,5 sen/kWh seperti PT Inalum.

Sebelumnya, Direktur Pengadaan Strategis II PLN Djoko Rahardjo Abumanan mengatakan pihaknya telah melakukan sinkonisasi energi pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan teknologi ultra supercritical (USC) pekan lalu. Adapun, PLTU  tersebut memiliki kapasitas 1.000 megawatt dan tari US$4,2 sen/kWh.

Djoko mengatakan tarif listrik bagi sektor industri kini sekitar US$7,12 sen/kWh atau Rp997/kWh. Berfungsinya PLTU USC akan membuat komposisi gas dari biaya pokok PLN (BPP) berkurang.

Berdasarkan BPP Juli 2019, komposisi gas dalam penciptaan energi berkontribusi sekitar 25,5%, sedangkan biaya penggunaan gas menopang 41,8% dari total biaya bahan bakar. Namun, Djoko mengatakan PT Perusahaan Gas Negara ingin agar PLN mempertahankan komposisi penggunaan gas untuk energi di sekitar level 20%.

“Akan terjadi regional balance karena sisi barat akan masuk dari PLTU [USC berkapasitas 1.000 megawatt]. Gasnya tidak kita pakai lah,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kawasan industri
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

BisnisRegional

To top