Harga Cabai Naik, Pemerintah Perlu Waspadai Spekulan

Pemerintah diharapkan dapat mengantisipasi aksi spekulan dan penimbun pasokan cabai di tengah tren harga yang memperlihatkan kenaikan di sejumlah daerah pada awal 2020.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 08 Januari 2020  |  14:00 WIB
Harga Cabai Naik, Pemerintah Perlu Waspadai Spekulan
Pedagang menunjukkan cabe kriting di Pasar Tradisional Mandonga, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (2/5/2019). - ANTARA/Jojon

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah diharapkan dapat mengantisipasi aksi spekulan dan penimbun pasokan cabai di tengah tren harga yang memperlihatkan kenaikan di sejumlah daerah pada awal 2020. 

Kondisi cuaca yang tak mendukung produksi diperkirakan masih menjadi kendala utama dalam stabilitas pasokan ke konsumen.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengemukakan kenaikan harga cabai sejatinya telah terlihat sejak perayaan Natal pada Desember lalu. Namun, dia belum bisa menyimpulkan apakah intensitas hujan yang tinggi di sentra produksi turut memengaruhi distribusi.

"Sebagian pedagang kami sudah menyiapkan stok dagangan untuk periode pascatahun baru. Hal ini yang merugikan kami karena sebagian terendam banjir. Itu yang memang menyulitkan kami. Ini yang di daerah Jabodetabek saja," ujar Abdullah ketika dihubungi Bisnis, Selasa (7/1/2020).

Mengutip statistik Info Pangan Jakarta, harga cabai rawit per 7 Januari 2020 tercatat berada di angka Rp68.105 per kilogram, sementara harga cabai merah besar terpantau di kisaran Rp59.315 per kilogram dan cabai rawit hijau Rp39.450 per kilogram. Adapun berdasarkan pantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga rata-rata nasional untuk cabai rawit merah bertengger di Rp54.800 per kilogram dan cabai rawit hijau Rp40.550 per kilogram.

Dari segi kebutuhan, Abdullah menyebutkan permintaan cenderung normal pada awal tahun seiring berakhirnya masa liburan. Dia menyebutkan jenis komoditas pangan seperti cabai dan bawang merah memang rentan mengalami kerusakan, namun dia menyarankan aksi penimbunan tetap perlu diawasi.

"Kami dari Ikappi tengah mengkaji apa faktor penyebabnya. Kalau spekulan saya pastikan hampir tidak mungkin karena cabai dan bawang itu relatif mudah rusak. Namun tetap sangat mungkin. Namun kami akui kendala utama saat ini pasokan memang tidak terlalu banyak. Ini otomatis memengaruhi harga," ujarnya.

Berdasarkan prognosis Badan Ketahanan Pangan (BKP), produksi cabai rawit selama Januari dan Februari diperkirakan lebih rendah dibandingkan Desember dengan volume masing-masing sebesar 82.998 ton dan 80.055 ton. Kendati demikian, tingkat kebutuhan pada periode ini diperkirakan tetap berada di bawah pasokan yakni sekitar 77.685 ton per bulannya. 

Dengan demikian, potensi surplus cabai sendiri dapat mencapai 27.888 ton selama Januari sampai Februari.

Dihubungi terpisah, Kepala BKP Agung Hendriadi menegaskan bahwa kenaikan harga cabai di berbagai wilayah merupakan imbas dari terganggunya distribusi akibat cuaca. Sementara itu, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), cabai merupakan salah satu komoditas dengan rantai pasok yang panjang. 

Margin harga antara produsen dan konsumen untuk cabai merah pun tercatat mencapai 43,09%, tertinggi di antara komoditas pangan strategis lainnya. "Distribusi agak terhambat karena cuaca," kata Agung melalui pesan tertulis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga cabai, pertanian

Editor : Lucky Leonard
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top