Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Salurkan BBM Bersubdisi Tepat Sasaran, Digitalisasi SPBU Perlu Ditingkatkan

Penerapan digitalisasi nozzle selama Natal dan tahun baru dinilai masih perlu peningkatan agar pendistribusian jenis bahan bakar minyak tertentu (JBT), yakni minyak solar, dan jenis bahan bakar minyak khusus penugasan (JBKP) dapat dilakukan tepat sasaran.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 18 Desember 2019  |  17:10 WIB
Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa (tengah) meninjau ketersediaan BBM di SPBU coco 21.353.12 modular Km 87 Tol Lampung - Terbanggi Besar, Lampung, Sabtu (1/6/2019). - Bisnis/David Eka Issetiabudi
Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa (tengah) meninjau ketersediaan BBM di SPBU coco 21.353.12 modular Km 87 Tol Lampung - Terbanggi Besar, Lampung, Sabtu (1/6/2019). - Bisnis/David Eka Issetiabudi

Bisnis.com, JAKARTA - Penerapan digitalisasi nozzle selama Natal dan tahun baru dinilai masih perlu peningkatan agar pendistribusian jenis bahan bakar minyak tertentu (JBT), yakni minyak solar, dan jenis bahan bakar minyak khusus penugasan (JBKP) dapat dilakukan tepat sasaran.

Kepala BPH Migas M. Fanshurullah Asa mengatakan pihaknya menginginkan agar pencatatan elektronik atau digitalisasi nozzle dilakukan dari awal transaksi. Pencatatan tersebut dapat melalui perekaman nomor polisi kendaraan menggunakan CCTV Analog. 

Hingga saat ini, target pencatatan hanya dilakukan berdasarkan sensor automatic tank gauge (ATG) dan nomor electric data counter (EDC) yang keluar saat melakukan transaksi. 

Dia mengungkapkan BPH Migas akan menyiapkan regulasi agar nomor polisi kendaraan dapat dilakukan pencatatan. 

"Komitmen awal kan bukan hanya EDC, tapi ada CCTV dipasang. Tapi, kami melihat keuangan," katanya, Rabu (18/12/2019).

Berdasarkan data Pertamina, sejak program digitalisasi dimulai pada 31 Agustus 2018, sudah ada 2.378 SPBU yang telah terdigitalisasi dan yang sudah terkoneksi dengan dashboard

Namun, SPBU yang terdigitalisasi tersebut belum dapat mencatat nomor polisi kendaraan. Oleh karena itu, keluaran yang dihasilkan belum dapat dijadikan perangkat untuk pengawasan dan pengendalian BBM bersubsidi.

Adapun BPH Migas memproyeksikan total penyaluran solar bersubsidi mencapai 16,15 juta kiloliter (KL) hingga akhir 2019 atau melebih target kuota subsidi solar APBN 2019 sebanyak 14,5 juta KL.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Retail PT Pertamina (Persero) Mas’ud Khamid menyampaikan target SPBU yang terdigitalisasi mencapai 5.518 SPBU. Sisanya akan diselesaikan hingga Juni 2019. 

Menurutnya, agar dapat diperoleh data pengguna BBM, perlu ada surat edaran dari BPH Migas untuk mengatur tata cara penjualan BBM di SPBU. 

“Perlu ada perubahan culture dari masyarakat untuk membayar terlebih dahulu sebelum mengisi BBM agar profil pengguna dapat teridentifikasi menggunakan EDC, serta menggunakan cashless untuk dapat dibatasi konsumsi BBM-nya," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina bbm subsidi bph migas
Editor : Lucky Leonard

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top