Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Utang Luar Negeri Indonesia pada Oktober 2019 Membengkak

Dilansir dari rilis Bank Indonesia, Utang Luar Negeri (ULN) pada Oktober 2019 tercatat US$400,6 miliar. Nilai ini secara rinci terdiri dari; US$202,0 miliar ULN sektor publik yakni pemerintah dan bank sentral, ditambahkan US$198,6 miliar bersumber dari ULN sektor swasta yang juga termasuk ULN untuk BUMN.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 16 Desember 2019  |  12:26 WIB
Ilustrasi - Bisnis/Saeno M Abdi
Ilustrasi - Bisnis/Saeno M Abdi

Bisnis.com, JAKARTA – Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Oktober 2019 tercatat tumbuh 11,9% (yoy), jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya 10,4% (yoy) akibat perbaikan nilai tukar rupiah meskipun ULN sektor swasta masih melambat.

Dilansir dari rilis Bank Indonesia, Utang Luar Negeri (ULN) pada Oktober 2019 tercatat US$400,6 miliar. Nilai ini secara rinci terdiri dari; US$202,0 miliar ULN sektor publik yakni pemerintah dan bank sentral, ditambahkan US$198,6 miliar bersumber dari ULN sektor swasta yang juga termasuk ULN untuk BUMN.

“Peningkatan ini terutama dipengaruhi oleh transaksi penarikan neto ULN dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sehingga utang dalam rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dolar AS,” jelas Bank Indonesia dikutip, Senin (16/12/2019).

Dia menyatakan, pertumbuhan ULN yang meningkat ini juga dipengaruhi oleh peningkatan pertumbuhan ULN pemerintah, di tengah perlambatan ULN swasta.

Bank Indonesia menyatakan pertumbuhan ULN Pemerintah meningkat sejalan dengan keyakinan investor asing terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi keuangan domestik yang menarik.

Secara teperinci, posisi ULN Pemerintah pada akhir Oktober 2019 tercatat sebesar US$199,2 miliar atau tumbuh 13,6% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya. Pertumbuhan ULN ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan arus masuk neto asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan penerbitan global bonds pada Oktober 2019.

Adapun pengelolaan ULN Pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Misalnya saja; sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 19,0% dari total ULN pemerintah, sektor konstruksi 16,5%, sektor jasa pendidikan sebesar 16,1%, sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 15,3%, serta sektor jasa keuangan dan asuransi 13,4%.

Di lain pihak, Bank Indonesia menyebut ULN swasta tumbuh melambat dari bulan sebelumnya. Posisi ULN swasta pada akhir Oktober 2019 tumbuh 10,5% (yoy), masih lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 10,7% (yoy).

Perkembangan ini disebabkan oleh pertumbuhan ULN Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) dan Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan (PBLK) yang melambat. Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA), sektor industri pengolahan, dan sektor pertambangan & penggalian. Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,6%.

Secara umum, menurut Bank Indonesia struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada Oktober 2019 sebesar 35,8%, membaik dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya. Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,4% dari total ULN.

Dalam rangka menjaga struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia menegaskan akan bekerja sama dengan pemerintah dan terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

“Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” tulis Bank Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

utang luar negeri
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top